KABUPATEN ACEH BESAR

Selasa, 15 Maret 2011

Kabupaten Aceh Besar dengan ibukotanya Jantho telah dikenal dengan berbagai kawasan wisata alam dan budaya yang mampu menarik minat wisatawan berkunjung, seperti Kota Saree, Pulo Aceh, Gunung Seulawah dan sebagainya. Berbagai atraksi alam lainnya juga terdapat di daerah ini, meliputji air terjun, sumber air panas dan berbagai pantai yang indah yang didukung dengan berbagai panorama alam yang menakjubkan.

Kota Saree merupakan sebuah kota yang terletak pada ketinggian sekitar 800 meter diatas permukaan laut, sehingga memiliki udara yang sejuk dan memiliki berbagai macam pepohonan yang hijau. Kota Saree yang juga dikenal sebagai kawasan wisata agro dengan berbagai potensi alamnya merupakan tempat beristirahat yang sangat strategis (rest area) bagi para pengendara yang lewat. Kota ini berjarak sekitar 70 Km dari Kota Banda Aceh dan sekitar 1,5 jam dengan bus menuju Sigli dan Medan. Dari Sigli berjarak sekitar 42 Km. Di sepanjang kota ini terdapat beberapa akomodasi sederhana, pasar buah-buahan, sayur-sayuran dan makanan ringan.
 
Lambang Kabupaten Aceh Besar 

Pulau Aceh merupakan kumpulan dari lima pulau di ujung Sumatera. Meskipun pulau-pulau tersebut hampir berdekatan dengan Kota Banda Aceh, Pulau Aceh memiliki pesona keindahan laut yang masih sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa nama terkenal diberikan untuk pulau-pulau ini, seperti Pulau Beras atau Breuh dan Pulau Nasi. Tapi ini bukan satu pulau dengan dua nama. Pulau terbesar disebelah utara adalah Pulau Breuh Utara dan Pulau Breuh Selatan yang hanya dipisahkan oleh selat yang sangat kecil dan sempit.

Terdapat juga kawasan gunung yang sangat tinggi di Aceh Besar, seperti Gunung Seulawah yang mempunyai dua puncak yakni Puncak Seulawah Agam dan Inong. Seulawah Agam memiliki ketinggian yang mencapai 1.806 m. Seulawah Inong berarti perempuan dan Agam adalah laki-laki. Gunung Seulawah ditutupi hutan yang tebal dan terdapat berbagai jenis kehidupan flora dan fauna, seperti burung, gajah, harimau, beruang madu, ruda. Untuk mendaki gunung tersebut (jungle tracking) membutuhkan waktu sekitar 6 jam dan untuk turun sekitar 3 jam. Terdapat juga jalan setapak yang dapat menuntun para wisatawan mendaki puncak. Di puncak juga terdapat area yang cocok untuk kegiatan camping dan jelajah hutan.


1.  PANTAI LHOK NGA

Pesona Pantai Lhok Nga 
Pantai Lhok Nga merupakan salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi masyarakat Aceh, terutama pada hari minggu. Pantai ini terletak di pinggir jalan raya Banda Aceh - Calang. Dari pantai terlihat sebuah pabrik semen Andalas yang sempat mengalami kerusakan parah akibat terkena gelombang Tsunami. Di dekat pabrik semen tersebut terdapat pegunungan kapur yang kapurnya digunakan sebagai bahan baku utama produksi semen.
Pantai Lhok Nga terkenal dengan pasir putihnya. Beragam karang putih dan keong dapat ditemukan dipasir pantai. Di pantai ini para pengunjung dapat melakukan berbagai pilihan rekreasi, seperti berjemur, memancing, snorkeling dan berselancar. Ombak pantainya sangat cocok untuk berselancar, karena dapat mencapai ketinggian hingga tiga meter. Khusus bagi pengunjung yang ingin berenang, perlu mengetahui adanya zona terlarang dimana pusaran ombaknya terlalu berbahaya. Apabila tidak ada tanda tertulis tentang zona terlarang, pengunjung dapat bertanya kepada anggota penyelamat pantai di tower pengawas atau kepada orang-orang yang berjualan disekitar pantai. Bagi perempuan yang ingin berenang, diharuskan mengenakan pakaian yang menutupi aurat (tidak terbuka).

Disore hari suasana pantai terasa lebih hening dan nyaman. Pengunjung dapat menyaksikan keindahan sunset yang penuh pesona.

Lokasi
Pantai Lhok Nga terletak di pantai barat Aceh di ujung Pulau Sumatera. Ia berada di Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya berdekatan dengan pantai Lampuuk dan dapat ditempuh melalui jalur Banda Aceh - Calang.

Akses Menuju Lokasi
Jarak lokasi pantai dengan Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sekitar 22 Km. Dari Kota Banda Aceh dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu sekitar 25 menit. Jika naik angkutan umum, yaitu labi-labi (angkot) jurusan Banda Aceh - Lhok Nga (labi-labi no. 4), dapat ditempuh kurang lebih 40 menit.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Saat ini belum ada akomodasi disekitar pantai. Berbeda kondisinya dengan sebelum tsunami, banyak tersedia cottage (tempat penginapan) bagi pengunjung. Di lokasi pantai ada tempat penyewaan selancar. Untuk urusan makanan, pengunjung tidak perlu bingung, disamping pantai berjejeran kedai makanan apapun termasuk cafe-cafe yang menjual berbagai makanan dan minuman.


2.  PANTAI LAMPUUK

Pesona Pantai Lampuuk
 Sebelum gempa dan tsunami 26 Desember 2004, Pantai Lampuuk menjadi salah satu objek wisata favorit masyarakat Aceh. Pohon cemara tumbuh rimbun disepanjang pantai dengan hembusan angin pantai yang segar. Terdapat banyak tempat makan ikan segar yang siap dipanggang (dibakar) dan bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai.

di setiap akhir pekan atau hari libur, banyak pengunjung yang datang untuk berekreasi. Khusus staf Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bertugas di Aceh, mereka berekreasi dengan berselancar dan berlayar. Disamping itu informasi yang perlu diketahui oleh para pengunjung adalah zona terlarang untuk beraktivitas berenang, karena pusaran ombaknya terlalu berbahaya.

Disekitar pantai berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas yang sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami. Didekat pantai juga terlihat sebuah masjid megah berwarna putih yang merupakan satu-satunya bangunan yang masih utuh ketika terjadi tsunami dan telah ditetapkan sebagai Monumen Tragedi Tsunami. Masjid ini berada satu komplek dengan perumahan penduduk pasca tsunami yang dibangun oleh pemerintah Turki.


Pantai Lampuuk sangat indah dengan pasir putihnya. Di pantai ini para wisatawan dapat berenang, berjemur, memancing, berlayar, berselancar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya. Di kawasan pantai terdapat Padang Golf Seulawah dengan latar belakang panorama laut. Disore hari pantai ini terasa lebih indah dengan pesona indahnya matahari terbenam, tebing, gunung dan burung Pooh.

Lokasi
Kawasan Lampuuk terletak di Pantai Barat Aceh di ujung Pulau Sumatera. Ia berada di Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya berdekatan dengan Pantai Lhok Nga dan dapat ditempuh malaui jalur Banda Aceh - Calang (Aceh Jaya)

Akses Menuju Lokasi
Jarak lokasi pantai dengan Kota Banda Aceh kurang lebih 20 Km dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 20 menit. Apabila naik angkutan umum jurusan Banda Aceh - Lhok Nga ditempuh sekitar 35 menit.

Akomodasi
Untuk saat ini belum ada akomodasi disekitar pantai, berbeda kondisinya sebelum tsunami banyak tersedia cottace (tempat penginapan) bagi pengunjung.


3.  PANTAI UJONG BATEE

Pesona Pantnai Ujong Batee

Selain Pantai Lhok Nga, pantai Aceh terkenal lainnya adalah Pantai Ujung Batee. Pantai ini akan penuh sesak oleh pengunjung di pagi hari, karena pemandangan matahari terbit di pantai ini menjadi salah datu kelebihan yang dimilikinya. Pantai Ujong Batee terletak di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Jarak menuju lokasi sekitar 17 Km dari Kota Banda Aceh menuju Pelabuhan Malahayati. Meskipun jaraknya sama-sama dekat dengan Kota Banda Aceh, tapi arah menuju Pantai Ujong Batee berlainan dengan arah dengan Pantai Lhik Nga. Disepanjang Pantai Ujong Batee kita bisa melihat peninggalan sejarah berupa Benteng Indra Parta 7 yang sebagian besar bentengnya sudah tergenang oleh air laut.


4.  PANTAI LHOK ME

Pesona Pantai Lhok Me



Pantai Lhok Me berada di Desa Lamreh, Dusun Lhok Me, jalan Menuju Krueng Raya sekitar 30 Km dari Kota Banda Aceh. Untuk mencapai tempat ini bisa menggnakan kendaraa roda dua - ataupun roda empat. Pantai Lhok Me merupakan pantai berpasir yang indah dan menjadi salah satu tempat rekreasi bagi masyarakat lokal maupun mancanegara. Disepanjang pinggir pantai terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman bagi para pengunjung. Tidak jauh dari kawasan pantai terdapat perumahan penduduk etempat.


5.  AIR TERJUN SUHOM

Pesona Air Terjun Suhom

Lokasi wisata alam Air Terjun Suhom pada setiap hari libur selalu ramai dipadati pengunjung yang ingin berekreasi, baik wsatawan lokal dan domestik maupun wisatawan mancanegara. Berbeda halnya ketika kondisi Aceh masih terjadi konflik, sedikit sekali orang yang berkunjung kesana. Pengunjung yang berasal dari luar kota atau mancanegara yang ingin mengetahu lebih mendalam mengenai seluk-beluk Air Terjun Suhom dipandu oleh pemandu wisata yang berasal dari warga lokal.

Posisi air terjun ini berada ditengah panorama alam yang indah dan alami. Disekitarnya terdapat banyak pohon durian, sehingga pada musim durian banyak yang berjualan durian disekitar air terjun tersebut. Disamping itu, disekitar air terjun juga terdapat lokasi yang dapat digunakan untuk camping (berkemah).

Air terjun yang deras ini menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat disekitar Desa Kreung Kala. Sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro kini telah dibangun didekat air terjun dan dioperasikan untuk mengaliri listrik ke sekitar 200 KK (Kepala Keluarga) penduduk Desa Kreung Kala.

Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju ke lokasi air terjun, terhampar pemandangan yang menakjubkan dengan keindahan yang luar biasa, deburan ombak dan pasir putjih terlihat dekat di sepanjang jalan dan tampak barisan pegunungan yang tinggi dan indah.

Lokasi
Air terjun ini terletak di Desa Suhom dan Desa Kreung Kala, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

Akses Menuju Lokasi
Untuk mencapai Air Terjun Suhom, dari Banda Aceh memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan angkutan umum. Perjalanan kesana melalui rute Banda Aceh - Calang (Aceh Jaya), melewati Pantai Lampuuk, Pantai Lhok Nga dan Kecamatan Leupung.


6.  AIR TERJUN KUTA MALAKA

Pesona Air Terjun Kuta Malaka

Air Terjun Kuta Malaka adalah air terjun yang berada di Kuta Malaka, Kecamatan Samahani, Kabupaten Aceh Besar. Air terjun ini terletak lebih kurang 600 m diatas permukaan laut dan bertingkat-tingkat. Konon menurut masyarakat setempat mencapai 8 tingkat dan ada yang mengatakan 20 tingkat. Untuk menuju lokasi kita harus menempuh perjalanan sekitar 30 Km dari Kota Banda Aceh.


7.  AIR TERJUN PEUKAN BILUY

Air Terjun Peukan Biluy adalah objek wisata air terjun yang merupakan salah satu objek wisata alam yang ada di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Desa Biluy, Kecamatan Darul Kamal dan juga merupakan tempat rekreasi bagi penduduk setempat.
Pesona Air Terjun Peukan Biluy

Tempat wisata air tejun Pekan Biluy ternyata masih meninggalkan sisa-sisa kejayaannya. Sebuah bekas bangunan cafe kayu masih berdiri meski sudah rongsok, juga ada dua tempat duduk beton memanjang disana. Untuk melihat langsung posisi air terjun, pengunjung harus menaiki anak tangga sebanyak 172 buah anak tangga dengan kemiringan rata-rata 45 derajat.

Pasca bencana tsunami 24 Desember 2004 silam, jalan menuju air terjun Peukan Biluy rusak parah, bahkan perbukitan tersebut banyak hilang namun sudah diperbaiki,


8.  WADUK KEULILING ACEH

Pesona Waduk Keuliling Aceh

Waduk Keuliling Aceh berada di Desa Lam Leulot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Dari arah jalan raya Medan - Banda Aceh manuju waduk ini bisa kita tempuh sekitar 7 (tujuh) kilometer.

Waduk Keuliling Aceh yang berada di antara bukit-bukit tersebut memberikan suasana tersendiri. Waduk Keuliling yang merupakan wisata buatan dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai tempat melepas hobi bagi mereka yang suka memancing.


9.  TAMAN HUTAN RAYA POCUT MERAH

Pesona Wisata Taman Hutan Raya Pocut Merah Intan

Objek Wisata Taman Hutan Raya Pocut Merah Intan mempunyai sejarah panjang sebelum ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya. Sejak tahun 1930 kawasan Seulawah Agam telah ditetapkan menjadi kawasan hutan. Pada tahun 1990 Pemda Daerah Istima Banda Aceh melalui SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh No.522.51/442/1990 tanggal 4 September 1990 membentuk Tim Taman Hutan Raya Seulawah. Luas peruntukannya mencapai 25.000 hektar, dari luas tersebut akan dipilih 10.000 hektar yang dianggap layak dan dapat mewakili keanekaragaman potensi flora, fauna maupun potensi fisik lainnya yang ada. Ternyata dari luas yang diperkirakan awal 10.000 ha, hanya 6.300 ha yang ditetapkan sebagai luas areal Tahura (Taman Hutan Raya) dan nama Tahura Seulawah kemudian ditetapkan menjadi Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan.

Tahura Pocut Meurah Intan terletak di gugusan kawasan hutan Seulawah Agam yang berjarak sekitar 70 Km dari Kota Banda Aceh, didominasi vegetasi hutan pegunungan dan Pinus Merkusi. Secara administratif berada di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie. Keadaan Topografi Tahura Pocut Meurah Intan umumnya berbukit-bukit, sebagian kecil adalah dataran dengan status sebagai hutan negara bebas dengan ketinggian 0 (nol) sampai dengan 40 meter diatas permukaan laut (dpl) dan berada di Kaki Gunung Seulawah Agam. Tahura Pocut Meurah Intan menyimpan berbagai flora yang didominasi kayu Pinus (Pinus Mercusii) dan Akasia (Acasia Unicolor) seluas 250 Ha dan padang alang-alang yang luasnya 5000 ha atau 20 persen yang diselingi hutan Muda. Penyebaran jenis-jenis flora ini hampir merata disemua kawasan, mulai hutan pantai, hutan dataran rendah hingga hutan dataran Tinggi. Sedangkan jenis fauna antara lain: Rusa (Cervus Unicolor), Babi (Sus Scrofa), Landak (Hystrik Brachyura), Babi (Sus Scrofa), Kancil, Kera ekor panjang, Burung Sri Guning, Burung Sempala, Ayam hutan dan Lutung. Selain itu dijumpai juga jenis mamalia besar di antara Gajah (Elephas Maximus).  Penyebaran jenis fauna hampir merata diseluruh kawasan. Alamnya yang potensial sebagai tempat wisata karena didapati sejumlah objek alam menarik, seperti air terjun berair panas, sumber air panas, kawah ie juk, kawah belerang, tempat mengasin satwa, kubangan gajah, rumah kolam, saluran pembagi air, bendungan tua peninggalan Belanda, mata air, lembah Mon Jasa Ma, Makan Teungku Lamcut, Mesjid Teungku Keumurah, tebing batu bersusun, lintasan gajah, lantai gunung berbatu, gunung gajah dan batu monyet.


10. PUSAT PELATIHAN GAJAH SAREE

 Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree

Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree berada di lokasi Kabupaten Aceh Besar. Hewan Gajah adalah satwa herbivora pemakan tumbuhan dan penyebar bibit dari hasil kunyahan yang tertelan melalui proses memamah biak dan dari kotorannya dapat membantu proses pembiakan biji secara natural. Kotoran tersebut membantu proses percepatan tumbuhnya biji (dormansi) menjadi kecambah, juga kotorannya menghasilkan pupuk organik bagi hutan yang menjadi daerah lintasannya.

Awalnya gajah yang menghuni LPG Saree merupakan gajah-gajah liar yang kemudian ditangkap. Tetapi gajah-gajah ini ditangkapi karena kebanyakan dari mereka pernah melakukan tindakan-tindakan merusak, seperti merusak kebun penduduk.

Gelar khas untuk gajah di Aceh adalah Teungku Rayeuk yang berarti petunjukan dan penamaan berdasarkan ciri fisik gajah yang besar dan raya. Gelar tersebut dtabalkan pada endatu Aceh pada zamannya, hingga kini sebutan itu masih tetap melekat. Para endatu dapat hidup saling berdampingan dengan satwa besar ini, bahkan dalam dinas peperangan kerajaan Aceh dimasa gemilang, gajah menjadi teman disaat menjadi pasukan dan berperan sebagai tuan dan pengendara. Sehingga cerita ini begitu sopan dan arif menjadi legenda turun-temurun.

Era tahun 70-an hingga 80-an ketika kita berangkat menjelang malam hari dari Banda Aceh menuju Pidie, disebutkan Teungku Rayeuk (Gajah) sering melintas jalan raya disekitar hutan pegunungan Seulawah tanpa ada yang mengganggu manusia. Bahkan penumpang bus pun tidak ada yang terusik. Ini menandakan hubungan manusia dan satwa terjalin dengan baik. Mungkin kondisi hutan pada saat itu lumayan baik, pembukaan hutan masih sangat kecil dan kondidsi hutan masih dalam kondisi normal.




11.  GUNUNG SEULAWAH AGAM

 Pesona Gunung Seulawah Agam

Gunung Seulawah Agam Kabupaten Aceh Besar kaya akan berbagai flora dan fauna. Sebut saja Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumatraensis), Kedih (Presbytis Thomasi), Burung Rangkong (Buceras Rhinocerous), dan Jamur (Fungi) serta berbagai spedies satwa-satwa lainnya. Menurut informasi, nantinya Seulawah Agam dan kembarannya Seulawah Inong akan dijadikan sebagai kawasan konservasi. Itu penting, mungkin saja mengingat perambahan kayu kian marak saja disana.


12.  CAGAR ALAM JANTHO

Pesona Cagar Alam Juntho

Cagar Alam Jantho berjarak sekitar 50 Km dan dari Kota Jantho (ibukota Kabupaten Aceh Besar) ke kawasan cagar alam sekitar 9 Km. Kawasan Cagar Alam Jantho menjadi kawasan lindung bagi pemerintah daerah Nanggroe Aceh Darussalam karena berbagai flora dan fauna hidup didalam cagar alam ini. 

Waktu kunjungan terbaik pada bulan April sampai dengan Agustus (musim kemarau) untuk menikmati pemandangan atau panorama yang indah. Jenis flora yang biasa didapati diantaranya hutan Pinus, Mampre, Jambu Air, Gleum, Bremen, Sampang, Ara, Damar, Medang, Kayu Hitam, Beringin, Meranti, Kandis, Rambutan Hutan, Tampu, Ketapang, Medang Ara, Lukup, Tampang, Lawang, Semiran, Anang, Jenarai, Kerakau, Rengen dan Merbau.

Sementara keanekaragaman faunanya yang bisa dijumpai seperti Siamang, Owa, Macan Dahan, Kucing Hutan, Rusa, Kijang, Kancil, Napu, Gajah, Kambing Hutan, Beruang, Trenggiling, Kukang dan Kuao.

Informasi Kontak Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Besar:
Jl. Prof. A. Majid Ibrahim No. 4


13.  BENTENG INDRA PATRA

Benteng Indra Patra

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati sebagai laksamana wanita pertama didunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.

Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunan terlihat begitu istimewa dan canggih pada massanya, karena untuk mencapai bagian dalam benteng harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.

Lokasi
Benteng ini terletak didekat pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Akses Menuju Lokasi
Tidak ada angkutan khusus yang menuju ke lokasi benteng. Dari Kota Banda Aceh berjarak sekitar 19 Km. Apabila ditempuh dengan kendaraan pribadi kurang lebih 35 menit dan 40 menit untuk angkutan umum jurusan banda Aceh - Krueng Raya dengan biaya sebesar Rp. 4.000,-.


14.  BENTENG INONG BALEE

Benteng Inong Balee

Secara administratif Benteng Inong Balee berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini disebut Benteng Inong Balee yang pembangunannya dipimpin Laksamana Malahayati, pada masa Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil. Pencapaian menuju Benteng Inong Balee melalui jalan raya beraspal arah Banda Aceh - Mesjid Raya, berbelok ke arah kiri berkanjut melalui jalan tanah. Kemudian sekitar 1 Km melintasi jalan tanah tersebut maka akan dijumpai benteng yang berada di tepi jurang dan dibawahnya pantai dengan batuan karang.

Benteng berdenah persegi panjang menghadap ke barat yaitu arah laut / Selat Malaka. Batas tembok disisi utara berupa tanah landai yang penuh dengan semak belukar, disisi timur juga semak belukar, sisi selatan areal perladangan dan sisi barat sekitar 10 meter adalah jurang. Konstruksi tembik benteng yang masih tersisa kini dibagian barat berupa tembok yang membujur utara-selatan dan bagian utara dan selatan membujur timur-barat. Kemudian dibagian timur terdapat struktur pondasi berukuran panjang sekitar 20 meter.

Bahan bangunan penyusun tembok benteng terbuat dari batuan alam berspesi kapur. Tembok benteng di bagian barat memiliki ukuran panjang 60m, tebal 2 m, dan tinggi 2,5m. Tembok dibagian utara berukuran panjang 40 m, tebal 2 m dan tinggi bagian dalam 1 m. Sedangkan tembok di bagian selatan berukuran panjang 60 m, tebal 2 m dan tinggi bagian dalam 1 m. Pada tembok yang membujur utara-selatan dibagian barat terdapat 4 lubang pengintaian menyerupai bentuk tapal kuda. Tinggi lubang pengintaian bagian dalam sekitar 90 cm, lebar 160 cm sedangkan lubang bagian luar sekitar 8 cm dan lebar 100 cm. Posisinya yang mengarah ke Selat Malaka jelas berfungsi untuk mengawasi terhadap lalu-lalang kapal laut.

Benteng Inong Balee sering juga disebut Benteng Malahayati. Benteng ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistik keperluan perang.

Saat ini Benteng Inong Balee telah rusak dan hanya beberapa bagiannya saja yang masih tersisa. Kuburan Laksamana Keumala Hayati sendiri terdapat di atas sebuah bukit yang sunyi di bawah sebuah pohon mimba tua. Sang Laksamana dibukurkan disamping suami dan seorang anaknya.


15.  BENTENG ISKANDAR MUDA

Benteng Sultan Iskandar Muda

Benteng Iskandar Muda adalah salah satu titik sejarah yang termasuk dalam trail Aceh Lhee Sagoe. Benteng Iskandar Muda dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-16 untuk melindungi wilayah kekuasaannya dari serangan Belanda dan Portugis. Benteng tersebut terletak di daerah Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 50 meter dari jalan utama arah laut Selat Malaka. Benteng yang dibangun dipinggir sungai Krueng Raya mempunyai bentuk persegi empat, bentuk yang hampir serupa dengan benteng Indra Patra, tetapi hanya mempunyai sebuah bangunan saja.

Saat ini terlihat beberapa perbaikan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam. Selain bangunan benteng yang sebagiannya runtuh akibat terjangan tsunami tahun 2004, pagar disekeliling benteng juga telah dibangun. Namun sampai saat ini, benteng tersebut masih belum maksimal pelestariannya. Ketika kami masuk ke daerah benteng, kami melihat pemandangan yang sama seperti benteng Indra Patra; kotor dan tidak ada perawatan yang dilakukan. Selain itu, tidak ada penjaga benteng yang kami jumpai selama kami mengamati sekitar benteng Iskandar Muda.


16.  KRUENG JREU

Pesona Kreung Jreu

Kawasan hutan lindung pegunungan hutan Krueng Jreu, Indrapuri, di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan salah satu objek wisata alam di Kabupaten Aceh Besar. Krueng Jreu bukan hanya memiliki alam indah, tetapi juga memiliki sungai dengan air bersih yang mengalir deras diantara kaki perbukitan yang sulit ditemukan di daerah lain di NAD.

Objek wisata alam ini berada di kecamatan Indrapuri, sekitar 31 Km dari Kota Banda Aceh (sekitar 5 Km dari jalan nasional Banda Aceh - Medan). Tempat ini dipadati pengunjung setiap hari libur yang kebanyakan warga Kota Banda Aceh yang datang bersama sanak dan keluarga.

Namun disayangkan, pembenahan belum dilakukan oleh Pemerintah Aceh Besar seperti jalan menuju ke lokasi yang masih berlubang dan berlumpur. Begitu juga sarana pendukung lainnya belum tersedia, sementara pengunjung diharuskan membeli tiket dari mobil pribadi Rp. 5.000,- dan kendaraan roda dua Rp. 1.000,- per orang.

Selain sebagai objek wisata, alamnya yang masih alami membuat para pecinta alam menjadikan Krueng Jreu sebagai salah satu daerah petualangan mereka.


17.  MAKAM LAKSAMANA MALAHAYATI

Makam Laksamana Malahayati

Laksamana Keumala Malahayati atau dikenal dengan Laksamana Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585 - 1604, memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Makam ini berada di atas bukit di Desa Lemreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau sekitar 34,5 Km dari Kota Banda Aceh.


18.  MAKAM PANGLIMA TEUKU NYAK MAKAM


Panglima Teuku Nyak Makam seorang pahlawan yang punya semangat juang dalam menentang penjajahan Belanda yang dikagumi oleh kawan dan lawan. Mempunyai strategis dan taktis gerilya sehingga pihak Belanda telah banyak mengalami kerugian dana, materiil dan jiwa (serdadu) Belanda.

Panglima Teuku Nyak Makam adalah seorang partisan yang bertaraf Internasional, bergerak secara mobilitas sebentar terdengar dia memimpin pendadakan di Tamiang, Langkat, kemudian dia dalam waktu tidak lama terdengar telah berada di front Aceh Besar, kemudian tampil kembali di front Aceh Timur.

Selain telah dapat membinasakan perwira dan prajurit Belanda, ia juga telah menguasai perkebunan kepunyaan bangsa Belanda termasuk ladang-ladang minyak, sehingga mengalami kerugian yang besar di pihak Belanda. Akibat banyak korban perwira dan serdadu Belanda dalam pertempuran di Tamiang, Pemerintah Belanda membangun Tugu peringatan pada tahun 1893 dan ditempatkan di lapangan Ekspanade yang kemudian terkenal dengan nama Lapangan Merdeka didepan Kantor Balai Kota Medan. Pada Prasasti itu tercantum nama perwira dan anggota KNIL yang mati terbunuh waktu pertempuran dibawah pimpinan Panglima Teuku Nyak Makam. Pada tahun 1925 ketika Governoor Genderaal FOCK mengunjungi Medan turut melihat monumen ini. Akan tetapi yang bersejarah ini telah diruntuhkan pada zaman pendudukan Jepang. Nama Panglima Teuku Nyak Makam bukan saja terkenal di Aceh, tetapi sampai ke Kota Medan sehingga Kota Medan sendiri ada jalan yang bernama Panglima Teuku Nyak Makam di daerah Medan Baru.

Akhirnya secara keji pasukan Belanda melampiaskan dendamnya terhadap Panglima Teuku Nyak Makam yang sedang sakit tidak berdaya ditangkap dirumahnya dengan ditandu dibawa ke poskonya di Lambada Gigieng 5 Km dari rumahnya dihadapan isteri dan anaknya serta keluarga dan pengikutnya pada tanggal 22 Juli 1896. Leher Panglima Teuku Nyak Makam dipanncung sehingga berpisah kepala dengan tubuhnya. Kepalanya diarak keliling Kota Kutaraja sebagai tanda kemenangan Belanda.

Tubuh dari Panglima Teuku Nyak Makam telah dibawa pulang keluarga dan pengikutnya, dimakamkan di pekarangan Mesjid Lamnga Aceh Besar, sekitar 12 Km dari Kota Banda Aceh, jalan Banda Aceh - Malahayati Krueng Kala. Menurut informasi, kepala dari Panglima Teuku Nyak Makam masih disimpan di Negeri Belanda.


19.  MAKAM PULOT COT JEUMPA

Pada masa Orde Lama muncul di Aceh yang terkenal dengan peristiwa Pulot - Cot Jeumpa bulan Mei 1954. Bulan Maret bagi orang Aceh tidaklah sesuci megah dan agungnya peringatan peristiwa 11 Maret 1966 dalam kerangka pikir Orde Baru, karena kekejaman tentara Republik di bulan itu telah demikian traumatis bagi rakyat Aceh. Dalam peristiwa Pulot - Cot Jeumpa ini, berkaitan dengan Darul Islam (1953 - 1964) di Aceh, Tentara Nasional Indonesia dengan brutal membantai anak-anak, bayi, wanita dan orang-orang tua yang sudah uzur. Angkatan perang Republik ini memang terlihat begitu kuat dan perkasanya di hadapan "musuh-musuh" hamba la'eh (kaum lemah) di Aceh ini. Di headline surat kabar "Peristiwa" yang terbit di Koetaradja (Kini Banda Aceh) memuat berita tragis tentang pembantaian manusia secara keji dan tak berprikemanusiaan : "99 orang penduduk di daerah Pulot Cok Jeumpa (Aceh Besar) yang tidak berdosa dibantai oleh alat negara.


20.  MAKAM TEUNGKU PANGLIMA POLEM

Makam Teungku Panglima Polem

Makam Panglima Polem terletak di Gampong Lam Sie, Seulimuem, Aceh Besar. Panglima Polem bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud. Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran Panglima Polem, yang jelas ia berasal dari keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta (Panglima Polem VII 1845 - 1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXVI yang bermukim Aceh Besar.

Dia diangkat sebagai Panglima Polem IX pada bulan Januari 1891 untuk menggantikan ayahnya Panglima Polem Raja Kula yang telah wafat. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima, dia kemudian mempunyai nama lengkap Tauku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud.

Bagi seorang pahlawan yang hadir ke medan tempur, gelar Panglima Polem dilekatkan di awal, sedangkan bagi anak keturunannya maka hanya ditambahkan dibelakang nama pemiliknya saja.


21.  MAKAM TEUNGKU CIK DI AWE GEUTAH

Makam Teungku Cik Di Awe Geutah

Makam Teungku Cik Di Awe Geutah berada dalam komplek perumahannya sendiri, disana kita masih bisa menemukan rumah adat Aceh atau lebih dikenal dengan nama Rumoh Aceh yang masih terpelihara. Terdapat sebanyak empat rumoh Aceh yang masih berdiri disana dengan ukiran khas yang masih utuh terjaga di komplek makam Tengku Chik. Salah satu rumoh Aceh tersebut adalah kediaman pribadi Teungku Chik Di Awe Geugah yang sekarang diwariskan kepada anak cucu beserta cicitnya.

Mengenal sosok Teungku Chik Di Awe Geutah sebenarnya terbilang klasik, seperti kebanyakan ulama yang datang ke bumi Serambi Mekkah memang bukan sembarang orang, seperti salah satu Teungku Chik ini. Teungku Chik mempunyai nama asli Syeikh Abdur Rahim Asyi' bin Jamaluddin Bawaris yang merupakan salah satu ulama yang berketurunan bangsa Arab (dalam literatur lain Bawaris berasal dari Yaman).

Tidak dapat dipastikan tahun berapa kedatangan Teungku Chik ke Aceh, jika dilihat dari rumah yang ditinggalkannya sekarang berumur 500 tahun lebih atau menurut perhitungan awam kedatangan Teungku Chik ke Aceh sekitar tahun 931 H. Atau menurut masa Kesultanan Aceh, kedatangan Teungku Chik berada pada masa puncak kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah.

Dari silsilahnya dikediaman Awe Geutah bisa kita lihat, bahwa Teungku Chik memiliki garis keturunan langsung dari Saidina Abbas r.a, melalui garis keturunan Nabu Muhammad SAW di atasnya. Dalam silsilah tersebut, dapat dicatat bahwa sebanyak sembilan keturunan langsung dari Teungku Chik dan sepuluh dari sang ayahnya, Jamaluddin Bawaris.

Jika kita melihat isi rumah Teungku Chik akan banyak sekali kitab-kitab yang kita temukan dari peninggalannya dulu, baik tentang ilmu tauhid, pendidikan, fiqh dan sebagainya. Adapun kitab-kitab tersebut kini telah dijaga dan dirawatoleh pemerintah setempat sebagai bukti sejarah atas napak tilasnya di tanah Aceh ini.

Selain itu didalam rumah kayu yang terbuat dari pohon Merbo atau Merbau tersebut juga bisa kita temukan satu unit geulungku (pemarut kelapa) yang diperkirakan sudah berumur 125 tahun. Hal ini diperkuat dari adanya tahun yang tertera di geulungku tersebut 1306 H. Sesuatu yang memang unik, kalau sejak dulu orang-orang telah mampu merekam sejarah melalui cara menulis tahun pada alat-alat sederhana seperti geulungku tersebut.

Ada juga sepasang sandal yang terbuat dari kayu, walaupun terbilang antik tapi sayang sandal tersebut tidak tertera tanggalnya.


22.  MAKAM TEUNGKU CHIK DI TIRO

Makam Teungku Cik Di Tiro

Muhammad Saman yang kemudian lebih dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro adalah seorang pahlawan Aceh. Ia adalah putra dari Teungku Sjech Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Sjech Abdussalam Mudo Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 H di Dajah Jrueng kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Pidie Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada disana, sehingga ia mulai tahu tantang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agam yang diyakininya, Teungku Cik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.

Dengan perang sabilnya, satu-persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukan Cik Di Tiro. Pada bulan Mei 1881, pasukan Cik Di Tiro dapat merebut benteng Belanda Lambaro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda merasa kewalahan akhirnya memakai "siasat liuk" dengan mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun. Tanpa curiga sedikitpun Cik Di Tiro memakannya, akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di Benteng Aneuk Galong. Makam Teungku Cik Di Tiro terletak di Desa Mureu Lam Glumpang, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Salah satu cucu dari Teungku Cik Di Tiro adalah Hasan Di Tiro, pendiri dan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka.


23.  MAKAM TEUNGKU CHIK PANTE KULU

Makam seorang ulama besar Aceh, Teungku Muhammad Pante Kulu di Desa Lam Leuot, Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Beliau adalah seorang pengarang hikayat Perang Sabil. Namun sungguh menyedihkan, makam seorang ulama sekaligus pujangga besar dunia, tapi diabaikan sedemikian rupa.


24.  MAKAM TEUNGKU FAKINAH

Makan Teungku Fakinah

Menurut catatan pada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, Teungku Fakinah adalah seorang pahlawan yang juga ulama putri yang terkenal di Aceh. Ia lahir pada tahun 1856. Orang tuanya Teungku Datuk dan Cut Mah dari Kampung Lam Beunot (Lam Taleuk), Mukim Lam Krak VII, Segi XXII Mukim, Kabupaten Aceh Besar. Sejak kecil, Teungku Fakinah diajarkan mengaji oleh kedua orang tuanya. Disamping itu, Teungku Fakinah juga diajarkan keterampilan seperti menjahit, membuat kerawang sutera dan Kasab. Dari ketekunan dan kegigihannya belajar Ilmu Agama Islam, maka setelah dewasa ia diberi gelar Teungku Faki.

Pada usisa 16 tahun, Teungku Faki menikah dengan Teungku Ahmad, yang setahun kemudian syahid bersama Panglima Besar Rama Setia dan Imam Lam Krak dalam mempertahankan Pantai Cermin, Ulee Lheu dari serangan Belanda. Setelah pernikahannya dengan Teungku Ahmad, Teungku Fakinah mambuka sebuah pesantren yang dibiayai Teungku Asahan yang tidak lain adalah mertuanya. Dalam bukunya "59 Tahun Aceh Merdeka", A. Hasjmi menyebutkan, pesantren tersebut bernama Dayah Lam Diran, yang akhirnya berkembang dan banyak dikunjungi pemuda-pemudi dari daerah lain di sekitar Aceh Besar dan bahkan dari Cumbok, Pidie. 

Sejak menjadi janda usianya yang masih remaja, Teungku Fakinah bersama para janda dan kaum wanita lain membentuk sebuah badan amal yang mendapat dukungan dari seluruh muslimat di Aceh Besar dan sekitarnya. Badan amal ini kemudian berkembang sampai ke Pidie, dengan kegiatannya meliputi pengumpulan sumbangan berupa beras maupun uang yang digunakan untuk membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Atas mufakat musyawarah, Teungku Faki kemudian menikah dengan seorang alim ulama yakni Teungku Nyak Badai, bekas murid Tanoh Abee yang berasal dari Kampung Langa, Pidie.

Dalam perjalanan hidupnya, Teungku Fakinah pernah mengungsi ke Lammeulo, Cumbok, Pidie, akibat serangan Belanda. Ditempat ini, Teungku Fakinah mendirikan sebuah pesantren wanita. Namun, sekitar tahun 1899 tempat itu diserbu dan di bumi hanguskan oleh Belanda. Teungku Fakinah berhasil meloloskan diri dan ikut bergerilya bersama suaminya. Pada tahun 1910, Panglima Polem atas nama masyarakat meminta Teungku Fakinah pulang ke kampung halamannya di Lam Krak untuk membantu pesantren disana. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah Teungku Fakinah wafat pada tahun 1938, masjid yang telah dibangun semasa hidupnya masih difungsikan oleh masyarakat sebagai tempat ibadah.


25.  MASJID INDRA PURI

Masjid Indra Puri

Masjid Indra Puri, berdasarkan situs arkeologis adalah masjid tertua di Nusantara yang dipengaruhi Hindu di masa lampau. Pada tahun 1874, tempat ini pernah digunakan untuk melantik Tuanku Muhammad Daud Syah sebagai Alaiddin Muhammad Daud Syah.

Pada masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, Indra Puri pernah menjadi ibukota Kerajaan dan Masjid Indra Puri dijadikan sebagai pusat dakwah, pendidikan, politik, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Dari masjid ini, banyak lahir ulama-ulama besar, pemikir dan ahli pembangunan yang bekerja untuk kerajaan.

Sebelum kedatangan Isalm, tepatnya pada masa Kerajaan hindu, Masjid Indra Puri merupakan candi digunakan sebagai tempat pemujaan atau peribadatan umat Hindu. Pada masa Sultan Iskandar Muda, bangunan bekas candi ini dialih-fungsikan menjadi masjid agar masyarakat lebih mudah beribadah dan memeluk Islam.

Selain sebutan Masjid Indra Puri, masyarakat menyebutnya dengan Benteng Indra Puri. Bangunan ini berbentuk berundak dan berdinding tembok. Bahan baku yang terpasang di dinding terlihat tidak teratur dengan campuran kapur dan tanah liat sebagai perekat.

Lokasi
Lokasi Masjid Indra Puri terletak sekitar 150 meter dari tepi Sungai Krueng Aceh, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.


Akses Menuju Lokasi
Jarak antara lokasi masjid dengan Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kurang lebih 25 ke arah utara. Dari Kota Banda Aceh dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu sekitar 30 menit.


26.  MUSEUM CUT NYAK DHIEN

 Museum Cut Nyak Dhien

Museum Cut Nyak Dhien berbentuk rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh), merupakan replika rumah srikandi Aceh, Cut Nyak Dhien. Pada mulanya rumah ini adalah tempat tinggal pahlawan wanita Cut Nyak Dhien. Di era Perang Aceh, rumah ini sempat dibakar oleh tentara Belanda (1893) yang kemudian dibangun kembali pada permulaan tahun 1980-an dan dijadikan museum. Pondasi bangunan ini mamsih Asli.

Cut Nyak Dhien adalah seorang pahlawan Wanita Aceh yang gagah berani. Ia lahir di Lampadang tahun 1848 dan menikah pada usia dua belas tahun. Pada tahun 1878 suami pertamanya Ibrahim Lamnga  meninggal karena tertembak dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Dua tahun kemudian, seorang pria bernama Teuku Umar datang ke pihak keluarga Cut Nyak Dhien untuk melamarnya. Secara pribadi, Cut Nyak Dhien bersedia menerima lamarannya asalkan Teuku Umar menerima permohonannya, yaitu apabila menikah dengannya agar ia diizinkan ikut bersama suaminya berperang melawan Belanda. Permohonan Cut Nyak Dhien diterima Teuku Umar dan pada tahun 1880 mereka pun menikah. Sebagai seorang istri ia setia dan selalu mendukung perjuangan suaminya.

Peristiwa kelam kembali terjadi pada tahun 1899, Teuku Umar meninggal karena ditembak dengan peluru emas oleh tentara Belanda. Akhirnya, Cut Nyak Dhien mengambil alih kepemimpinan suaminya. Selama enam tahun ia berjuang bersama anaknya Cut Gambang, memimpin pasukan, menerapkan strategi perang gerilya dan hidup bersama pasukan didalam hutan. Akhirnya, di usianya yang senja dengan mata yang rabun ia ditangkap oleh tentara Belanda di hutan dan diasingkan ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pada tanggal 6 November 1908 ia meninggal dan dikebumikan di Gunung Puyuh, Kabupaten Sumedang.

Berkunjung ke museum Cut Nyak Dhien, pengunjung dapat mengenang keberanian dan kepahlawanan seorang Srikandi terkenal Aceh dalam perjuangan mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda. Museum ini memiliki nilai-nilai sejarah, budaya dan berarsitektur khas Aceh. Di dalamnya terdapat bukti dan benda-benda sejarah, koleksi peninggalan Cut Nyak Dhien.

Lokasi
Lokasi museum terletak di sebelah barat jalan Banda Aceh - Lhok Nga, di daerah pedesaan dengan hamparan sawah yang hijau, tepatnya di Desa Lampisang, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.

Akses Menuju Lokasi
Jarak Lokasi museum dengan Kota Banda Aceh sekitar 6 Km. Dari Kota Banda Aceh dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu kurang lebih 10 menit. Apabila naik angkutan umum, yaitu labi-labi (angkot) jurusan Pasar Aceh - Lhoknga dapat ditempuh kurang lebih 20 menit.


27.  PASAR LAMBARO

Pasar Lambaro Aceh Besar

Pasar Lambaro merupakan tempat masyarakat Lambaro berbelanja kebutuhan sehari-hari. Pasca tsunami 2004, pasar ini juga menjadi tempat belanja masyarakat luar Lambaro karena pasar utama, seperti Pasar Aceh, Pasar Ikan Peunayong, Pasar Sayur Peunayong dan Pasar Seutui mengalami kerusakan akibat bencana tsunami. Bertambahnya pembeli di pasar ini menyebabkan banyak pedagang dari pasar yang rusak akibat tsunami berjualan di Pasar Lambaro.

Nuansa pasar yang masih tradisional merupakan salah satu keistimewaan Pasar Lambaro. Hal tersebut dapat disaksikan dikedai-kedai makanan yang banyak menjual masakan khas Aceh dengan aroma dan rasa yang sangat enak. Di antara masakan khas Aceh yang dapat dinikmati oleh pengunjung di antaranya adalah gule pliek u (sayuran terkenal Aceh dengan 44 jenis bumbu), kari kambing, kari ayam, ayam tangkap, gule kepiting, gule ikan hiu, gule kapala ikan dan sate matang. Masakan ini umumnya dijual pada siang hari. Pada pagi hari, banyak pengunjung yang datang untuk menikmati secangkir kopi dan menyantap hidangan kue ketan bakar. Sedangkan pada sora da n malam hari, ada beberapa tempat yang berada tidak jauh dari jalan utama pasar yang dapat dikunjungu untuk membeli berbagai macam gorengan seperti pisang goreng, ubi goreng dan berbagai hidangan lainnya.

Lokasi
Pasar Lambaro berada di Desa Lambaro, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

Akses Menuju Lokasi
Jarak antara Pasar Lambaro dengan Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam lebih kurang 7 Km ke arah timur. Dari Kota Banda Aceh, pasar ini dapat ditempuh dengan kendaraan dalam waktu sekitar 15 menit.      
       

1 komentar:

Rizal Al Ayyubi mengatakan...

sunguh indah pesonawisata aceh besar ini.
mas boleh saya minta alamat e mail mas, saya mau sharing privasi.

Poskan Komentar