KOTA BANDA ACEH

Selasa, 08 Maret 2011

Banda Aceh dikenal sebagai "Kota Pendidikan dan Budaya" merupakan Ibukota Propinsi Nanggrore Aceh Darussalam yang terletak startegis di ujung paling barat Pulau Sumatera. Waktu tempuh menuju Banda Aceh sekitar 2 jam dengan menggunakan transportasi udara dari Jakarta dan sekitar 45 menit dari Kota Medan. Kota Banda Aceh menyimpan berbagai potensi dan kekayaan budaya yang bernafaskan Islam serta kebesaran sejarah kerajaan Aceh pada masa lalu.

Lambang Kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh juga memiliki berbagai kawasan wisata unggulan yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan nusantara dan mancanegara. Berbagai kawasan wisata unggulan tersebut meliputi kawasan wisata alam, wisata budaya/ sejarah, wisata pendidikan, kawasan wisata Tsunami dan kawasan wisata minat khusus seperti makanan dan minuman khas Aceh.
Masjid Raya Baiturrahman yang merupakan salah satu peninggalan sejarah Aceh masa lalu, yang terletak strategis di pusat Kota Banda Aceh telah menjadi icon penting Pariwisata Aceh. Masjid Raya ini memiliki berbagai keindahan arsitektur dan ornamen, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Aceh serta memiliki latar belakang sejarah Aceh yang luar biasa. Berbagai atraksi wisata unggulan lainnya meliputi Museum Aceh, Gunongan (man-made mountain), Kerkoff Peucut, Monumen RI 001 Seulawah, Makam Tgk. Syiah Kuala, Universitas Syiah Kuala, Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry (IAIN), Pelabuhan PenyeberanganUlee Lheue dan Pantai Cermin Ulee Lheue.


I.  MASJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama.

Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah Aceh. Masjid ini merupakan markas pertahanan rakyat Aceh ketika berperang dengan Belanda (1873-1904). Pada saat terjadi Perang Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun sebuah monumen kecil di depan sebelah kiri Masjid Raya, tepatnya dibawah pohon Ketapang. Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya pada tahun 1879. Hingga saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993)

Peristiwa sejarah yang terakhir adalah terjadinya bencana tsunami 24 Desember 2004. Ketinggian dan derasnya air tsunami hingga 2 meter yang hampir menggenangi ruangan dalam Masjid Raya, menjadi saksi sejarah bagi kebanyakan orang yang selamat ketika berlindung di Masjid Raya. Setelah air tsunami surut, didalam Masjid Raya dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah korban tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Masjid yang menempati kurang lebih empat hektar ini berasitektur indah dan unik, memiliki tujuh kubah, empat menara dan satu menara induk. Ruangan dalam berlantai marmer buatan Italia, luasnya mencapau 4.760 m2 dan dapat menampung hingga 9.000 jama’ah. Di halaman depan masjid terdapat sebuah kolam besar, rerumputan yang tertata rapi dengan tanaman hias dan pohon kelapa yang tumbuh diatasnya.
 
Lokasi
Masjid ini berada dipusat kota Banda Aceh yang bersebelahan dengan pasar tradisional Aceh.

Akses Menuju Lokasi
Keberadaannya di pusat kota memudahkan bagi pengunjung, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum.



II.  GUNONGAN

 Gunongan

Gunongan yang  berada di taman sari (taman sari kerajaan), merupakan simbol dan kekuatan cinta  Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya yang cantik jelita, Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang,  Malaysia. Alkisah, Putroe Phang sering merasa kesepian di tengah kesibukan  sang suami sebagai kepala pemerintahan. Ia selalu teringat dengan kampung  halamannya di Pahang. Sang suami memahami kegundahan permaisurinya. Untuk  membahagiakan sang permaisuri, ia membangun sebuah gunung kecil (Gunongan) sebagai miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang di Pahang. Setelah Gunongan selesai dibangun, betapa bahagianya sang permaisuri. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain bersama dayang-dayang di sekitar  Gunongan, sambil memanjatinya.

Letak Gunongan berhadapan dengan lokasi perkuburan serdadu Belanda. Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) pada abad ke-17. Bangunan Gunongan tidak terlalu besar, bersegi enam, berbentuk seperti bunga dan  bertingkat tiga dengan tingkat utamanya sebuah mahkota tiang yang berdiri  tegak. Pada dindingnya ada sebuah pintu masuk berukuran rendah yang selalu  dalam keadaan terkunci. Dari lorong pintu itu ada sebuah tangga menuju ke  tingkat tiga Gunongan.

Di sebelah Gunongan ada sebuah bangunan yang disebut dengan Kandang Baginda. Kandang Baginda merupakan lokasi pemakaman keluarga Sultan Kerajaan Aceh yang salah satunya adalah makam anak angkat Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) yang berasal dari Malaysia.

Lokasi
Lokasi Gunongan berada di Taman Sari Gunongan, di Desa Seutui, Kotamadya Banda Aceh, Nanggroe Aceh  Darussalam, Indonesia.

Akses Menuju  Lokasi
Akses menuju ke lokasi ini sangat  mudah, karena Desa Seutui berada di tengah kota Banda Aceh. Para pengunjung  dapat masuk menuju lokasi dari pintu gerbang yang berada di Jalan Teuku Umar. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti taxi, becak  mesin dan labi-labi. Labi-labi yang melewati rute Taman Sari  Gunongan adalah jurusan Lhoknga – Pasar Aceh,   Lamteumen – Pasar Aceh, dan Lamlagang – Pasar Aceh.
  

 III.  PINTO KHOP

Pinto Khop

Dibangun Pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Pinto Khop ini merupakan pintu gerbang berbentuk kubah. Pintu Khop ini merupakan tempat beristirahat Putri Phang, setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari Gunongan, disanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri. Disana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga. Ditempat itu pula oleh Sultan dibangun sebuah perpustakaan dan menjadi tempat sang permaisuri serta Sultan menghabiskan waktu sambil membaca buku selepas berenang, keramas dan mandi bunga.


IV.  TAMAN PUTROE PHANG

 Taman Putroe Phang
 
Taman Putroe Phang atau Putri Pahang, adalah Taman yang dibuat oleh Sultan Iskandar Muda.Putri pahang sendiri adalah Istri raja pahang yang sangat cantik,Karena ada sengketa dikerajaan pahang maka putri pahang diberikan kepada Sultan Iskandar Muda untuk dijadikan Istri, sebagai persembahan untuk kesenangan putri dibuatlah taman tersebut,Terdapat juga bangunan yang disebut Gunongan saat setelah selesai dibuat kemudian dikapur putih oleh penduduk dengan jalan tiap tiap penduduk datang kesitu untuk mencalitkan kapur yang dibawa oleh calitan jarinya, masing masing “Saboh Cilet” atau satu calit. 


V.  TAMAN SARI BANDA ACEH

 Taman Sari Banda Aceh

Taman Sari Banda Aceh berada tepat di depan kantor walikota Banda Aceh atau berada langsung disebelah kiri Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Letaknya yang strategis sebagai ruang hijau dengan luas 300 meter persegi, menjadikannya sebagai taman multi fungsi, yaitu sebagai tempat rekreasi dan juga merupakan simbol dari pembaruan dan harapan.
Taman Sari merupakan tempat bermain yang ramai dikunjungi oleh masyarakat dengan lokasi yang berada tidak jauh dari Mesjid Raya Kota Banda Aceh, Taman Sari merupakan salah satu tempat favorit di Kota Banda Aceh dengan fasilitas yang tersedia antara lain : mempunyai taman yang luas dan tertata rapi dengan aneka permainan gratis bagi anak-anak dan juga tersedia hot spot gratis sehingga setiap orang dapat mengakses internet serta di dukung oleh bangunan gedung untuk menunjang tempat ini sebagai pusat kegiatan masyarakat.


VI.  LONCENG CAKRA DONYA

Lonceng Cakra Donya
 
Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Museum Aceh, Banda Aceh. Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Ketika Pasai ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal Sultan Iskandar Muda yang bernama "Cakra Donya" (Cakra Dunia) waktu melawan Portugis, maka itu lonceng ini dinamakan Cakra Donya. Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis menamakannya "Espanto del Mundo" (Teror Dunia). Kemudian Loncengyang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab (sudah tak dapat dibaca lagi aksaranya sekarang) ini diletakkan dekat mesjid Raya Baiturrahman yang berada dikompleks Istana Sultan. Namun sejak tahun 1915 lonceng ini dipindahkan ke Musium Aceh dan ditempatkan didalam kubah hingga sekarang (halaman Musium). Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini juga juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.

Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang bermutu tinggi yang disimpan di Museum Aceh. Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan sebuah bingkisan Maharaja Cina yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Di atas Lonceng tersebut tertera aksara Cina "Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo".


VII.  MONUMEN SEULAWAH RI 001 

Monumen Seulawah RI 001

Pesawat Seulawah yang dikenal RI-1 dan RI-2 merupakan bukti nyata dukungan yang diberikan masyarakat Aceh dalam proses perjalanan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, Pesawat Seulawah yang menjadi cikal bakal Maskapai Garuda Indonesia Airways disumbangkan melalui pengumpulan harta pribadi masyarakat dan saudagar aceh sehingga Presiden Soekarno menyebut "Daerah Aceh adalah Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat aceh seluruh Wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali". Pesawat Seulawah dibeli dengan harga US$120.000 dengan kurs pada saat itu atau kira-kira 25 Kg emas dan untuk mengenang jasa masyarakat aceh tersebut maka di buat replika pesawat seulawah yang berada di Lapangan Blang Padang Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh.


VIII.  MUSEUM ACEH (RUMOH ATJEH) 

Museum Aceh (Rumoh Atjeh)
 









    

Di sekitar jalan Sultan Mahmud Syah terdapat beberapa objek bersejarah yang sangat menarik dikunjungi. Adapun objek tersebut adalah Museum Negeri Aceh atau Rumoh Aceh.

Pemerintah Belanda pada tahun 1914 membangun Rumoh Atjeh (Rumah Aceh). Adapun fungsi rumoh Atjeh tersebut adalah tempat pameran barang-barang yang berasal dari Aceh dalam Pameran Kolonial (de-koniale tenstoonsteling). Pameran ini dilaksanakan di Semarang Jawa Tengah pada tanggal 13 Agustus sampai dengan 15 Agustus 1915. Setelah selesai pameran, bangunan ini dibongkar dan dibawa kembali ke Kutaraja. Selanjutnya rumah tersebut dibangun sesuai dengan bentuknya semula dan dijadikan Museum Aceh yang ditempatkan di samping lapangan eksplanade kutaraja. Oleh karena itu, ada juga yang menyebut museum ini dengan nama Rumoh Aceh. Museum Aceh itu sendiri pemakaiaannya diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915.


IX.  RENCONG

Rencong

Rencong (reuncong) merupakan senjata tradisional masyarakat Aceh. Bahan baku utama pembuatan rencong adalah besi putih, kuningan, dan tanduk kerbau (tanduk berwarna putih dan hitam).Pada masa penjajahan Belanda, rencong digunakan di medan perang, tidak hanya oleh kaum pria, namun juga kaum wanita. Senjata ini diselipkan di pinggang sebagai penanda egalitarianisme dan ketinggian martabat, sekaligus simbol pertahanan diri, keberanian, kebesaran, dan kepahlawan ketika melawan penjajah Belanda. Dalam perjuangan melawan Belanda, sejarah mencatat nama-nama besar pahlawan srikandi Aceh, seperti Laksamana Malahayati (laksamana wanita pertama di dunia), Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, dan Teungku Fakinah

Saat ini, rencong telah beralih fungsi sebagai salah satu cenderamata khas Aceh. Rasanya tidak sempurna apabila pelancong dari luar Aceh ketika berkunjung ke Aceh tidak membeli rencong sebagai hadiah atau kenang-kenangan.

Keistimewaan 
Salah satu keistimewaan rencong ada pada proses pembuatannya. Pembuatan rencong dengan bahan baku besi putih akan memerlukan waktu lebih lama dan lebih sulit dibandingkan dengan yang berbahan kuningan. Dari sekian banyak rencong yang ada, dapat dibagi ke dalam empat jenis reuncong, yaitu rencong pudoi (rencong yang belum sempurna pada bentuk gagangnya); rencong meukure, yaitu rencong yang diberi hiasan seperti gambar hewan, akar kayu dan bunga di bagian matanya; rencong meupucok (memiliki pucuk) yang di atas gagangnya ada sebuah pucuk yang biasanya terbuat dari emas; dan rencong meucugek yang pada gagangnya terdapat suatu bentuk cugek (perekat dan bergagang lengkung 90 derajat).
Rencong memiliki makna filosofi keislaman di mana pada gagangnya berbentuk huruf Arab ba, sedangkan pada bujuran gagangnya adalah huruf Arab sin. Pada pangkal besi yang berbentuk lancip dekat gagang, berhuruf Arab mim. Sementara itu, lajur-lajur besi pada gagang, berhuruf Arab lam. Secara keseluruhan, rencong berbentuk kalimat Arab Bismillah.

Lokasi 
Desa Baet Masjid, Desa Baet Meuseugoe, dan Desa Baet Lampu ot merupakan tiga sentra pengrajin rencong di Aceh Besar. Ketiga desa ini berada di Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Akses Menuju Lokasi
Jarak antara  Desa Baet Masjid, Desa Baet Meuseugoe, dan Desa Baet Lampu ot dengan Kota Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kurang lebih 25 km ke arah timur. Dari Kota Banda Aceh, ketiga desa tersebut dapat ditempuh dengan mengendarai kendaraan roda dua atau empat dalam waktu kurang lebih 45 menit.

Harga
Harga sebilah rencong bervariasi, tergantung dari kualitas besi, gagang, dan ukurannya. Rencong yang berukuran sedang (panjangnya 10-12 cm) dan terbuat dari kuningan, biasanya dihargai sebesar Rp 20.000,00 hingga Rp 75.000,00 (April 2008), sedangkan rencong yang berukuran lebih besar (panjangnya lebih dari 12 cm) biasanya dihargai sebesar Rp 75.000,00 hingga Rp 80.000,00 (April 2008). Harga sebilah rencong dapat mencapai ratusan ribu rupiah bilamana besi putih sebagai bahan utamanya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Untuk saat ini belum ada akomodasi di sekitar lokasi. Namun, di Desa Baet Masjid, Desa Baet Meuseugoe, dan Desa Baet Lampu ot pelancong dapat mengunjungi dan melihat tempat-tempat pembuatan rencong yang masih menggunakan cara-cara tradisional, mulai dari menempa sebilah besi putih atau kuningan hingga pemasangan gagang dari tanduk kerbau. Di tempat ini, pelancong juga dapat memesan jenis rencong yang diminati. Semua pengrajin rencong di ketiga desa tersebut adalah kaum lelaki. Pengetahuan dan ketrampilan membuat rencong yang mereka miliki, berasal dari pengalaman bekerja dengan orang tua. Rencong-rencong yang dibuat banyak yang dipasarkan di beberapa kawasan belanja di kabupaten di Aceh, terutama di Pasar Aceh Banda Aceh.


X.  RUMAH RATU SAFIATUDDIN

 Rumah Ratu Safiatuddin

Bila datang ke Banda Aceh, pasti akan melihat sebuah taman yang di dalamnya terdapat berbagai bangunan rumah adat dari berbagai etnik yang ada di Aceh. Taman itu berada persis di sisi kanan kantor gubenuran Aceh atau di sisi kiri jalan T. Nyak Arif menuju ke kampus Darusalam. Taman itu dibangun saat akhir-akhir pemerintahan Gubernur Abdullah Puteh berkuasa. Saat itu Aceh masa belum damai seperti sekarang ini masih dalam keadaan berkonflik antara GAM dan pemerintah RI. Taman itu diresmikan oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri bersamaan dengan pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh yang ke IV. Kemudian setelah Aceh Damai, di Taman itu juga diadakan kembali Pekan kebudayaan Aceh ke V serta perhelatan seni lainnya. Termasuk Pekan Peradaban Melayu Raya yang berlangsung di Banda Aceh pada tanggal 19 s/d 24 Agustus 2008, Event ini diikuti 13 Negara Anggota Dunia Melayu Dunia Islam,  Propinsi di Indonesia dan seluruh Kabupaten/kota di Aceh.

Berdasarkan sejarah Aceh, pada masa lampau sebelum Indonesia berdiri, Aceh telah menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh negara-negara lain. Pada saat itu Aceh telah dipimpin oleh ratu-ratu yang sangat termashur. Salah satu diantaranya adalah Ratu Safiatuddin. Sultanah Safiatuddin bergelar Paduka Sri Sultana Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah. Putri dari Sultan Iskandar Muda dan dilahirkan dengan nama Putri Sri Alam. Safiatud-din Tajul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.” Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negerinya. 

Sebelum ia menjadi sultanah, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Setelah Iskandar Tsani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana.

Sultanat Safiatuddin memerintah selama 35 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan. Sejarah pemerintahan Sultana Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik.

Begitulah cerita tentang Ratu Safiatuddin yang sekarang namanya abadikan pada sebuah taman di Aceh. Taman itu merupakan lambang kemegahan perempuan Aceh. Mudah-mudahan wanita-wanita Aceh dapat mengembalikan marwahnya sehingga mampu mengikuti kedigjayaan perempuan Aceh masa lalu. Tentu saja dalam bidang-bidang lain yang tidak bertentangan dengan cita-cita para ratu Aceh yang gagah perkasa. 
 

XI.  PLAKAT KOTA BANDA ACEH
Pemerintah Banda Aceh bekerjasama dengan BRR Aceh-Nias dan warga Gampong Pande memancang plakat untuk menandai tempat asal mulanya kota itu, bertepatan dengan peringatan HUT ke-802 Kota Banda Aceh. Acara peletakan plakat ini dilaksanakan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, yang merupakan titik bersejarah muasal perkembangan Kota Banda Aceh. Di tempat inilah, Kesultanan Aceh Darussalam dibangun oleh Sultan Alaidin Johansyah 802 tahun lalu atau pada 22 April 1205 Masehi.

Plakat Kota Banda Aceh
Pemasangan plakat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan mewujudkan jalur jejak sejarah (heritage trails), rekonstruksi Taman Bustanus-salatin dan penanaman pohon persahabatan sebagai bagian dari rehabilitasi Aceh pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami. Plakat yang dipancang mencantumkan kalimat dalam tiga bahasa, yaitu Aceh, Indonesia dan Inggris. Dalam Bahasa Aceh berbunyi, Disinoe asai muasai mula jeut Kuta Banda Aceh teumpat geupeudong keurajeuen Aceh Darussalam le Soleuthan Johansyah bak uroe phon puasa Ramadhan thon 601 Hijriah (Di sini cikal bakal Kota Banda Aceh tempat awal asal mula kerajaan Aceh Darussalam, didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 H).
Program jejak jalur sejarah Kota Banda Aceh sejauh ini telah mengidentifikasikan 100 titik bersejarah sejak masa Hindu/Budha, perkembangan masuknya Islam, Kolonial Belanda, hingga Aceh pasca tsunami. Tim ini juga mengidentifikasikan sebuah situs yang penting untuk direkonstruksi di pusat Banda Aceh, yaitu Taman Bustanus-salatin, sebuah taman raja-raja yang megah pada abad ke-17. Jalur jejak sejarah ini bertujuan memberikan landasan bagi pembangunan Kota Banda Aceh di masa mendatang agar tidak melupakan sejarah perkembangannya. Pada tahap awal, program difokuskan pada kegiatan studi dan survei titik-titik bersejarah, serta kegiatan perencanaan dan perancangan. Dalam tahap kedua tahun depan, program akan meletakkan plakat-plakat penanda pada 20 titik bersejarah, memulai awal dari rekonstruksi Taman Bustanus-salatin dengan penanaman kembali pohon dan tanaman yang tercantum di dalam Kitab Bustanus-salatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry di abad ke-17 dan mulai penanaman pohon sebagai bagian dari program pohon persahabatan.

XII.  PENDOPO GUBERNUR ACEH

 Pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
Tepat di atas bekas istana Kerajaan Aceh, ada sebuah bangunan Belanda. Bangunan ini berfungsi sebagai pendopo gubernur. Bangunan ini didirikan oleh Belanda pada 1880 untuk tempat tinggal Gubernur Belanda. Sekarang, bangunan ini Di sinilah para Gubernur Aceh bertempat tinggal. Pendopo Gubernur dibangun oleh pemerintah militer Belanda. Adapun tempat dimana bangunan ini berdiri merupakan bekas kraton kerajaan Aceh. Arsitektur bangunan Pendopo Gubernur merupakan kombinasi antara arsitektur Eropa dan Aceh.

XIII.  KAPAL PLTD APUNG

Kapal PLTD Apung
Dikarenakan banyak menara transmisi listrik dari Sumatera Utara ke Aceh ditebang oleh pihak-pihak pemberontak pada masa konflik maka masalah kekurangan listrik di Banda Aceh menjadi sangat krusial sehingga PLN menempatkan Kapal Generator Listrik untuk mensuplai kebutuhan listrik di Banda Aceh melalui jalur laut. Pada hari minggu pagi tanggal 26 Desember 2004, gelombang Tsunami menghempas Kapal tersebut sejauh lebih kurang 3KM dari pesisir pantai. Dikarenakan banyak objek akibat Tsunami seperti perumahan penduduk yang hancur telah dibangun kembali, maka Kapal besar di tengah kampung ini sangat membantu untuk mendapatkan gambaran betapa dahsyatnya Tsunami tersebut.



XIV.  KAPAL APUNG LAMPULO

 Kapal Apung Lampulo
Situs ini tetap dipertahankan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengenang Musibah Tsunami yang melanda Kota Banda Aceh. Sebuah kapal yang terbawa Gelombang Tsunami dan terdampar di perumahan penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam.

XV.  TAMAN WISATA KRUENG ACEH

 Taman Wisata Krueng Aceh

Taman Wisata Krueng Aceh Sungai yang membelah Kota Banda Aceh ini merupakan salah satu sungai yang cukup bersih untuk dijadikan sebagai objek wisata dengan konsep panorama aliran sungai dengan suasana tenang dan nyaman untuk melepas kepenatan. Titik Lokasi Waterfront City di Kota Banda Aceh meliputi kawasan Gampong Keudah, Gampong Kuta Alam dan Kawasan Gampong Lamgugob, dengan sarana yang tersedia yaitu tempat rekreasi keluarga di titik Keudah dan Kuta Alam serta wisata air di jembatan lamnyong dan juga Sebagai pelengkap bagi pengunjung yang tidak hanya melepas kepenatan dapat memanfaatkan lokasi jogging track dekat jembatan Peunayong sebagai sarana olah raga ataupun tempat pembibitan benih tanaman di Kampung Bar.

XVI.  KOPELMA DARUSSALAM

 Kopelma Darussalam
Kopelma Darussalam adalah sebuah gampong di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Di Kopelma Darussalam terdapat dua perguruan tinggi yang merupakan kebanggaan masyarakat di Nanggröe Aceh Darussalam yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry.

Gampong adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Aceh, Indonesia. Gampong berada di bawah Mukim. Gampong merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gampong bukanlah bawahan Sagoe Cut (kecamatan), karena Sagoe Cut merupakan bagian dari perangkat daerah Sagoe (kabupaten) atau kota, sedangkan Gampong bukan merupakan bagian dari perangkat daerah. Berbeda dengan Kelurahan, Gampong memiliki hak mengatur wilayahnya yang lebih luas. Namun dalam perkembangannya, sebuah gampong dapat diubah statusnya menjadi kelurahan.


XVII.  PANTAI ALUE NAGA

 Pantai Alue Naga


Pantai Alue Naga lokasinya berjarak hanya beberapa kilometer dari Banda Aceh ke arah Krueng Raya. Jalan masuk ke lokasi adalah jalan aspal yang walaupun sempit namun mulus. Jalan berakhir di laut, yang ditimbuni dengan batu gunung yang besar-besar. Para pemancing meramaikan tempat ini setiap sore. Pengunjung lainnya hanya sekedang menikmati semilir angin laut yang berhembus pelan dan menikmati suasana matahari terbenam.

Alue Naga adalah desa yang benar-benar terletak di tepi pantai, dan tahun 2004 lalu habis tersapu tsunami. Pemandangan dan suasana di tempat ini sangat nyaman dan menyenangkan karena dikelilingi oleh lanskap alam yang mempesona di tepi kota. Desa ini dikelilingi oleh sungai, pantai, danau, dan tambak. Dari kejauhan kota Banda Aceh yang tidak bergedung-gedung tinggi memberi ruang untuk barisan pegunungan dikejauhan terlihat jelas mengelilingi Banda Aceh.


XVIII.  PANTAI CERMIN BANDA ACEH

Pantai Cermin Banda Aceh


Kawasan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, termasuk objek wisata Pantai Cermin yang cukup dikenal, kini mulai memancarkan lagi ‘aura’ kehidupan setelah hancur tak berbekas dihantam tsunami. Mulai tahun ini, Pantai Cermin menjadi arena kegiatan seni dan budaya dengan starting point-nya momentum HUT ke-63 Bhayangkara. Kegiatan seni dan budaya di Pantai Cermin Ulee Lheue dikemas dalam kegiatan bertajuk; Peukan Kebudayaan Meuraxa (PKM) di mana pelaksanaannya dipadu dengan perayaan HUT ke-63 Bhayangkara.

PKM I berlangsung mulai 27 Juni hingga 5 Juli 2009. Kegiatan tujuh hari itu diisi dengan aneka kegiatan, seperti lomba memasak diikuti peserta dari jajaran Pemko Banda Aceh hingga kecamatan, lomba mewarnai untuk anak-anak dari Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, lomba memancing, festival rapa-i geleng se-Banda Aceh dan Aceh Besar, dalail khairat tingkat kecamatan di Banda Aceh dan Aceh Besar, fashion show (busana muslim tingkat anak-anak), pameran serta panggung seni dan hiburan rakyat.

HUT ke-63 Bhayangkara juga sebagai bentuk tanggungjawab melestarikan seni dan budaya bangsa, membina hubungan persaudaraan, dan sosialisasi pelestarian lingkungan khususnya kelautan agar semakin meningkat tanggungjawab menjaga lingkungan. 


XIX.  WARUNG KOPI ULEE KARENG

Di Nanggroe Aceh Darussalam, telah menjadi tradisi bagi kaum prianya untuk menikmati kopi di warung-warung. Jumlah warung kopi di Aceh, khususnya di Banda Aceh, sangat banyak, mungkin terbanyak di Indonesia. Warung kopi di Aceh tidak sama dengan warung kopi yang ada di Pulau Jawa, karena warung kopi di Aceh bentuknya seperti restoran. Dari sekian banyak warung kopi di Kota Banda Aceh, terdapat satu warung kopi yang sangat populer dan selalu dipenuhi pengunjung dari pagi hingga malam hari, yaitu warung kopi Ulee Kareng “Jasa Ayah”. Warung kopi ini dimiliki oleh seorang pria Aceh yang bernama Nawawi. Sebelumnya warung kopi ini telah ada sejak tahun 1958, namun bukan dengan nama “Jasa Ayah”, yang dikelola oleh orang tua Nawawi, yang bernama Haji Muhammad. 

Kopi Ulee Kareng

Bagi kaum lelaki Aceh, warung kopi tidak hanya sebagai tempat untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan khas Aceh lainnya, namun ia berkembang dengan fungsinya yang lebih luas, seperti fungsi sosial, yaitu sebagai tempat memperkuat ikatan solidaritas antar kelompok atau antar sahabat; fungsi politik, dijadikan tempat diskusi isu-isu politik dan pemerintahan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional; dan fungsi ekonomi, yaitu sebagai tempat pertemuan dan lobi-lobi bisnis.

Warung kopi “Jasa Ayah” tidak hanya populer di Aceh, namun juga di Indonesia. Kepopulerannya semakin bertambah pasca tsunami di Aceh, karena banyak pekerja nasional dan internasional yang berdatangan ke aceh. Tidak hanya media massa nasional yang memuat berita tentang kekhasan aroma dan rasa kopi “Jasa Ayah”, namun juga media internasional. 

Keistimewaan aroma dan rasanya berasal dari pengolahan kopi arabika yang jitu. Kopi itu didatangkan dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Diolah dengan cara-cara khusus dan penuh kesabaran, dan keuletan, mulai dari penyangraian (penggonsengan) hingga penggilingan. Ketika kopi itu disangrai, apinya tidak boleh terlalu besar, karena dapat menyebabkan kegosongan. Setelah itu baru kopi digiling. Pada saat kopi itu akan disajikan, ia harus diseduh dengan air mendidih agar mengeluarkan aroma yang harum hingga beberapa meter dan barulah setelah itu disaring dan siap disajikan. Umumnya pengunjung yang menikmati kopi arabika “Jasa Ayah”, menikmatinya sambil menyantap hidangan khas Aceh lainnya, seperti kue sarikaya, kue timpan, kue bolu, martabak telor, nasi gurih (nasi uduk) ataupun mie Aceh.

Meskipun usahanya terbilang sukses dengan keuntungan bersih satu harinya hingga mencapai lebih kurang Rp. 2.000.000,00, (dalam satu bulan menghabiskan 1,5 ton kopi) Nawawi tetap memikirkan kehidupan akhirat. Semenjak peristiwa tsunami melanda Aceh, ia mulai menerapkan peraturan baru bagi pengunjung di warungnya, bagi yang beragama Islam diwajibkan meninggal warung sebelum tiba waktu adzan dzuhur, ashar, dan maghrib. Dan bagi yang tidak beragama Islam, tidak masalah untuk tetap berada di warung. Baginya kehidupan duniawi dan akhirat mesti berjalan seiring.

Lokasi
Warung Kopi “Jasa Ayah” berada di Jalan T. Iskandar no.13-14a, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Akses Menuju Lokasi
Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena Kecamatan Ulee Kareng berada di Kota Banda Aceh. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti: taxi, becak mesin dan labi-labi. Labi-labi yang melewati rute Warung Kopi Ulee Kareng adalah jurusan Ulee Kareng – Pasar Aceh. 

Harga
Segelas kopi dihargai Rp. 1.500,00, (Maret 2008), namun apabila pengunjung ingin menambahi susu kental, harganya menjadi Rp. 3.000,00 (Maret 2008). Di warung ini juga dijual bubuk kopi dalam bentuk kemasan beberapa ukuran, seperti 250 gram dengan harga Rp. 10.000,00 (Maret 2008). Kalau yang kemasan 1 kg dijual sekitar Rp. 60.000,00 (Maret 2008).



XX.  BECAK ACEH

Becak Aceh

Becak adalah pilihan transportasi terbaik untuk mengelilingi Kota Banda Aceh. Selain murah, becak motor ternyata menjadi transportasi andalan dan cukup mendominasi di Banda Aceh. Seperti halnya bajaj di Jakarta, becak motor layak dijuluki ‘raja jalanan’ di tanah rencong. Becak memang kembali berjaya di Banda Aceh. Pada waktu terjadi tsunami 2004, konon 1500 becak hanyut oleh gelombang air laut.

Becak motor sebenarnya tidak hanya ada di Aceh, tetapi juga di Pulau Bangka Belitung (Babel). Bedanya ada pada posisi tempat duduk penumpang. Tempat duduk penumpang becak di Babel berada didepan, sedangkan di Banda Aceh terletak di samping.

Selama tinggal di Banda Aceh tidak perlu khawatir malam-malam tidak ada becak. Becak beroperasi selama 24 jam.


XXI.  MASJID BAITURRAHIM ULEE LHEU

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu
Masjid Baiturrahim ini merupakan satu-satunya bangunan dipinggir Pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh pada saat Tsunami menerjang Kota Banda Aceh, sementara bangunan lain yang berada di sekitarnya luluh lantak di hantam Gelombang Tsunami pada hari minggu tanggal 24 Desember 2004. Namun, masjid menara masjid berusia 123 tahun dan kubahnya tetap kokoh. Umat muslim menganggapnya sebagai mukjizat, bahwa rumah Allah diselamatkan dari gelombang ganas tsunami.  



XXII.  MASJID TEUNGKU DI ANJONG

Masjid Teungku Di Anjong
Masjid Teungku Di Anjong merupakan bangunan yang didirikan pada abad ke 18 oleh Sayyid Abuakar bin Husan Bafaqih, yaitu seorang ulama Arab yang mendapat gelar Teungku Di Anjong. Bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah masjid yang bermaterial kayu, namun seiring dengan perkembangan zaman, masjid tersebut "menjelma" menjadi bangunan masjid baru yang bermaterial bata. Ironis memang, tapi renovasi ini lebih baik daripada membiarkan bangunan bersejarah ini hancur dan roboh. Satu hal yang masih dipertahankan dari renovasi ini yaitu bentuk asli masjid tidak berubah walaupun telah berganti material. Begitu bentuk atap yang bertingkat-tingkat khas ala masjid-masjid Jawa masih tetap dipertahankan pada renovasi masjid ini. 
Dominasi warna putih yang digunakan untuk Masjid ini ditambah dengan kombinasi hijau yang digunakan untuk warna atap dan kusen serta jendelanya membuat Masjid ini jadi terasa seperti masjid yang benar-benar baru. Padahal kita tau kalau masjid ini sejatinya dibangun pada abad ke 18. Satu-satunya kesan antik yang ditimbulkan dari komplek ini hanya bangunan makam dan juga pemakaman yang ada di komplek tersebut.



XXIII.  KUBURAN MASSAL KORBAN TSUNAMI ULEE LHEU

Situs wisata ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda dan sebelum Tsunami merupakan Rumah Sakit Umum Meuraxa, namun ketika Tsunami melanda Kota Banda Aceh Rumah Sakit tersebut rusak parah dan halamannya dijadikan pemakaman massal bagi korban Tsunami sedangkan untuk Rumah Sakit Meuraxa sendiri direlokasi ke Desa Mibo Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh.



XXIV.  MAKAM SERDADU BELANDA KERKHOFF PEUCUT

Makam Serdadu Belanda Kerkhoff Peucut


Kerkhoff berasal dari bahasa Belanda yang berarti kuburan, sedangkan Peucut (Pocut) berasal dari Poteu Cut yang berarti pangeran. Pada relief dinding gerbang makam tertulis nama-nama serdadu Belanda yang meninggal dalam pertempuran dengan masyarakat Aceh (setiap relief ada 30 nama); daerah pertempuran, seperti di Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang – Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango dan Samalanga; dan tahun meninggal para serdadu (1873-1910). Di antara para serdadu Belanda tersebut ada beberapa nama prajurit Marsose yang berasal dari Ambon, Manado dan Jawa. Para prajurit Marsose yang berasal dari Jawa ditandai dengan identitas IF (inlander fuselier) dibelakang namanya, prajurit dari Ambon dengan tanda AMB, prajurit dari Manado dengan tanda MND dan serdadu belanda dengan tanda EF/ F. Art.

Di lahan seluas dua hektar terdapat sekitar 2.200 makam serdadu Belanda. Batu-batu nisannya berwarna putih yang tampak berjajar dengan rapi. Di bagian kiri pintu gerbang bertulis “in memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”.

Pemakaman ini merupakan symbol perjuangan, keberanian dan kepahlawanan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda. Pada waktu tentara Belanda mendarat di Aceh pada tahun 1873, pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Kohler yang kemudian tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman pada tanggal 14 April 1873. Ia dikubur di Batavia. Atas permintaan Gubernur Aceh Muzakir Walad sebagai simbol peringatan sejarah perang Aceh – Belanda, maka pada tanggal 19 Mei 1978 jasad Kohler dipindahkan ke Kerkhoff. Banyak wisatawan local dan mancanegara khususnya dari Belanda yang berkunjung ke lokasi makam ini.

Lokasi
Lokasi makam terletak di Desa Blower, Kotamadya Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam

Akses Menuju Lokasi
Akses menuju ke lokasi sangat mudah, karena Desa Blower berada di tengah Kota Banda Aceh. Para peziarah dapat masuk menuju lokasi dari pintu gerbang yang terlihat dari jalan besar di Blang Padang. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti taksi, becak mesin, angkutan kota jurusan Lhoknga – Pasar Aceh, Ulelheu – Pasar Aceh, Lamteumen – Pasar Aceh dan Lamlagang – Pasar Aceh.


XXV.  MAKAM KANDANG MEUH



Komplek Kandang Meuh (Makam Raja-raja Aceh) ini terletak di komplek Baperis dan komplek Museum Negeri Aceh. Dalam komplek Baperis terdapat dua Kandang Raja Aceh, yang pertama disebut Kandang Meuh dan satu lagi disebut Komplek Makam Sultan Ibrahim Mansur Syah. Adapun yang dimakamkan di komplek Kandang Meuh antara lain Putri Raja anak Raja Bengkulu, Sultan Alaidin Mahmud Syah, Raja Darussalam, Tuanku Zainal Abidin dan lain-lain.

Selanjutnya komplek Makam Sultan Ibrahim Mansur Syah dimakamkan antara lain Pocut Rumoh Geudong (istri Sultan Ibrahim Mansur Syah), Sultan Ibrahim Mansur Syah (memerintah tahun 1836-1870), Sultan Mahmud Syah (anak Sultan Mahmud Syah), Sultan Husein Johar Al-alam Syah (anak Sultan Muhammad Syah), Putoru Binen (kakak Sultan Ibrahim Mansur Syah), Tuanku Husein Pangeran Anom (anak Sultan Ibrahim Mansur),Tuanku Cut Zainal Abidin, Tengku Chik, Tuanku Raja Ibrahim (anak Sultan Mohammad Daud Syah).

Dalam komplek Museum Negeri terdapat makam Sultan Alaidin Ahmad Syah (1727-1735), Sultan Alauddin Johan Syah (1735-1760), Sultan Alauddin Mohammad Daud Syah (1781-1795), dan Pocut Mohammad (anak Sultan Ahmad Syah).

Tidak jauh dari kompleks makam Kandang Meuh terdapat makam Sultan Iskandar Muda. Sultan yang pernah memerintah Kerajaan Aceh. Di bawah pemerintahannya kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya.
Alamat Komplek Kandang Meuh (Makam Raja-Raja Aceh):
Jl. S.A. Mahmudsyah 12 Desa Peuniti, Kecamatan Baiturrahman
Banda Aceh - Indonesia.



XXVI.  MAKAM KANDANG XII

Makam Kandang XII

Komplek makam Kandang XII yang terletak di Kelurahan Keuraton Kecamatan Baiturrahman di sisi barat Pendopo Gubernur NAD, luasnya sekitar 214M2 mulai dipugar oleh pemerintah melalui proyek purbakala tahun 1978. Sultan Aceh yang dimakamkan antara lain Sultan Ali Mughayat Syah memerintah antara tahun 1514-1530 yang berhasil mengusir Portugis di Selat Malaka yang hendak menyerang wilayah kekuasaan Aceh, Kerajaan Aru (Sumatera Timur), Pasai, Pedir dan Daya hingga ke Barus (Pancur) Tapanuli Tengah. 



XXVII.  MAKAM POE TEUMEUREUHOM

 
Pada setiap Hari Raya Idul Qurban (10 zulhijjah) makam Poe Teumeureuhom yang terletak di salah sebuah Kemukiman Kuala Daya dalam wilayah Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, senantiasa mendapat kunjungan (Ziarah) tidak kurang dari 6.000 sampai 8.000 pengunjung,yang datang dari berbagai pelosok Kecamatan Jaya dan juga dari Kecamatan-Kecamatan yang berdekatan dengannya bahkan tidak jarang dari luar Kabupaten Aceh Jaya .

Dengan rasa khikmat dan penuh keyakinan, para pengunjung berdesak-desakan membanjiri komplek makam Poe Teumeureuhom tersebut, hanya untuk menyaksikan upacara Seumeuleung & Peumeunap dengan kepentingan yang berbeda-beda .ada yang sekedar ingin melihat upacara keramaian, tetapi yang terbanyak diantaranya ialah untuk melepas nazar (Peulheuh Kaoy) mendapatkan sejumput nasi sisa dimakan pada upacara agung itu, atau untuk membasahi kepala dengan air guci makam Poe Teumeureuhom yang terkenal keramat itu.

Upacara Seumeuleung dan Peumeunap ini bukanlah merupakan bagian dari upacara keagamaan, atau dengan kata lain wajib dilaksanakan (di pandang dari segi Agama Islam) sehingga lazim kita dengar, apabila upacara ini tidak di laksanakan akan mendapat kutukan
(tertimpa bala) dan sebagainya.akan tetapi yang jelas Upacara tersebut telah diwariskan melalui generasi turun-temurun hingga saat ini, diperkirakan sudah 500 Tahun lamanya.


XXVIII.  MAKAM SULTAN ISKANDAR MUDA

Makam Sultan Iskandar Muda

Makam Sultan Iskandar Muda terletak di kota Banda Aceh. Beliau merupakan tokoh penting dalam sejarah kesultanan Aceh. Kerajaan Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636. Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Islam Aceh menduduki peringkat kelima kerajaan Islam terbesar di dunia.

Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636, ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima diantara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke-16. Saat itu Banda Aceh ang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara dimana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa.
 
Beliau bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak kandungnya. Dikisahkan, Sultan memiliki dua orang Putera/Puteri. Salah satunya bernama Meurah Pupok (Pocut) yang gemar pacuan kuda. Tetapi buruk laku Meurah, dia tertangkap basah sedang berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap sang suami, dirumahnya sendiri pula. Sang Suami mencabut Rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong. Sang Suami kemudian melaporkan langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang Suami kemudian berharakiri (bunuh diri). Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai Raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda dan dipancungnya (dibunuh) sendiri di depan umum.
XXIX.  MAKAM TEUNGKU SYIAH KUALA
Makam Teungku Syiah Kuala
Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.
Karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. diantaranya adalah:
- Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
- Tarjuman al-Mustafid. Merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
- Terjemahan Hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
- Mawa'iz al-Badî'. Berisi sejumlah nasehat penting dalam pembinaan akhlak.
- Tanbih al-Masyi. Kitab ini merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
- Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud. Memuat penjelasan tentang konsep wahadatul wujud.
- Daqâiq al-Hurf. Pengajaran mengenai tasawuf dan teologi.

Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.
XXX.  MAKAM TEUNGKU DI BITAI
Makam Teungku Di Bitai

Komplek makam kuno peninggalan Turki terletak berbarengan dengan komplek Tengku Di Bitai, Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh, Luas areal 500 m2. Komplek makam berada ditengah-tengah perkampungan dan disekitar makam itu terdapat mesjid kuno yang bangunannya mirip seperti bangunan Turki dengan status tanah wakaf.

Bitai adalah nama sebuah perkampungan yang ditempati para ulama Islam dari Pasai Pidie dan Ulama itu berasal dari Negara Baitul Muhadis dan Turki. Semula para ulama bertujuan untuk mengajarkan agama Islam di perguruan tinggi. Perkembangan Islam di Bitai sangat termasyur (maju) karena banyak orang luar Aceh yang belajar untuk memperdalam agama Islam.

Bagi yang belajar di Aceh mengembangkan lagi di negaran ya masing-masing. Maka semakin majulah perkembangan Islam masa itu. Raja-raja yang menganut agama Budha akhirnya masuk Islam karena tidak diperbolehkan kepala Negara Budha pada saat itu. Disamping mengembangkan agama Islam, para kepala Negara itu juga mengadakan kerja sama pada bidang ekonomi. (dagang) dan menjalin hubungan yang baik pada masalah ketahanan Negara.
Turki Membantu Aceh memberikan perlengkapan perang. Masa pemerintahan Sri Sultan Salahuddin yang mangkat pada tahun 1548 M, hanya memerintah 28 (Dua Puluh Delapan) tahun tiga bulan. Masa pemerintahannya mempunyai agenda meningkatkan pendidikan dan hubungan kerja sama dengan Negara-negara lain seperti Turki, tanah melayu, Pakistan dan Arab Saudi.

Raja dan keluarganya Turki dan masyarakat yang berada di negeri Kedah umumnya beragama Islam dan akhirnya orang Turki menikah dengan orang Aceh yang tinggal di Bitai. Pada saat wafatnya Raja Salahuddin, orang Turki yang merupakan sahabatnya, memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal dunia mereka minta dimakamkan saling berdekatan yaitu di Komplek Situs Makan Tuanku Di Bitai.

Jumlah makam secara keseluruhan lebih kurang 20 (dua puluh) makam diklarifikasikan, makam dari batu cadas berjumlah 7 (tujuh) makam. Makam dari batu sungai berjumlah 18 (delapan belas) makam.

Secara keseluruhan batu nisanya berbentuk segi delapan dan hiasannya bertuliskan kaligrafi dengan bahasa arab. Segi delapan mewujudkan delapan sahabat dari Aceh, Tukri dan Saudi Arabia. Pada bagian bawah nisan terdapat pola luas tumpal, puncak nisan cembung diatasnya terdapat lingkaran sisi delapan.



0 komentar:

Poskan Komentar