KABUPATEN ACEH TENGAH

Selasa, 22 Maret 2011

Wilayah Kabupaten Aceh Tengah dengan Ibukotanya "Takengon" memiliki luas wilayah mencapai 4.318,39 Km yang terbagi menjadi 14 kecamatan dan 2 desa. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireun de sebelah utara, Kabupaten Gayo Lues di sebelah selatan, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya disebelah barat serta Kabupaten Aceh Timur disebelah timur.
Kesenian sebagai suatu unsur budaya yang sangat penting bagi masyarakat Gayo tidak pernah mengalami kevakuman bahkan cenderung terus berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, seperti Tari Saman dan Seni Bertutur yang disebut Didong. Selain untuk kegiatan hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan sekaligus sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Disamping itu, terdapat juga bentuk kesenian lainnya, seperti: Tari Bines, Tari Guel, Tari Munalu, Sebuku (Pepongoten), Guru Didong dan Melengkap (seni berpidato berdasarkan adat).
Kehidupan orang Gayo memiliki sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, kesetiakawanan, gotong-royong dan rajin. Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.
Lambang Kabupaten Aceh Tengah
Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan berbagai peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Tarian ini juga sering ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Pada kenyataannya nama "Saman" diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman. Tari Saman biasanya ditampilkan menggunakan iringan alat musik berupa gendang dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna. Tarian ini dilakukan secara berkelompok sambil bernyanyi dengan posisi duduk berlutut dan berbanjar (bersaf) tanpa menggunakan alat musik pengiring.
Tari Bines salah satu tarian suku Gayo. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah dan kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian ini diperkenalkan oleh seorang ulama Syech Saman dalam rangka berdakwah. Tari Bines dimainkan oleh wanita dengan cara duduk berbanjar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan-gerakan itu pelan kemudian menjadi cepat dan cepat sekali dan akhirnya berhenti seketika secara serentak. Tarian ini masih sering diadakan dalam acara adat di tanah Gayo terutama di Kabupaten Gayo Lues.
Tari Guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di Aceh. Guel berarti membunyikan. Khusunya di daerah dataran tinggi Gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari, tetaoi merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.
Kabupaten ini memiliki berbagai keindahan dan pesona budaya lainnya yang telah menjadi daya tarik wisatawan nusantara, seperti Rumah Adat dan Makam Raja Linge, Danau Laut Tawar (sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di dataran tinggi Gayo), berbagai jenis fauna yang hidup di danau Laut Tawar, Pantai Terong, Pante Menye, Goa Putri Pukes, Goa Loyang Datu Merah Mege, Air Terjun Mengaya, Goa Loyang Koro dan lain-lain.


1.  DANAU LAUT TAWAR

Pesona Danau Laut Tawar 

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutkan dengan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 Km dan lebar 3,219 Km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 meter kubik (2,5 triliun liter). Keberadaan Danau Laut Tawar menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Ia merupakan objek wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Danau ini menjadi sumber air yang dimanfaatkan tidak hanya oleh masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, namun juga oleh masyarakat di kabupaten-kabupaten lainnya.

Beredar cerita tradisional masyarakat Gayo tentang ikan depik, bentuknya seperti ikan hias bertubuh ramping, bersisik putih berkilau dengan ukuran sebesar ibu jari tangan. Konon, depik berasal dari butiran nasi yang dibuang ke danau. Ia akan muncul ke permukaan pada musim tertentu, khususnya pada saat musim hujan. Sebelum musim tiba, gerombolan depik bersembunyi di selatan danau, di kaki Gunung Bur Kelieten. Depik merupakan suatu anugerah Tuhan pada masyarakat Gayo, meski terus-menerus dikonsumsi, ia tidak akan pernah habis.

Dua bukit yang mengapit danau ini, semakin memperlihatkan keindahan danau. Penyatuan perairan dan daratan memberi banyak sumber penghidupan bagi masyarakat, terutama disekitar dataran tinggi Gayo. Sebutan Laut karena luasnya seperti laut dan sebutan air tawar karena airnya tidak asin. Air tawarnya menyimpan banyak flora dan fauna, salah satunya yang paling terkenal ialah ikan depik yang merupakan spesies ikan yang hanya ada di Danau Laut Tawar. Hewan yang hidup disekitar danau, ditemukan 20 spesies mamalia yang terbagi atas 13 famili, beberapa diantaranya termasuk hewan yang dilindungi, antara lain binturung, pukas, trenggiling, landak, kancil, napu, owa, siamang, tanado, harimau, kucing hutan, rusa dan kijang.

Di lokasi ini pengunjung dapat melihat masyarakat yang bercocok tanan dan memancing. Suatu aktivitas yang telah manjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar danau. Komoditi unggulan yang ditanam di dataran tinggi Gayo antara lain: kopi gayo (kopi arabika) yang sangat terkenal di Jepang, kentang, markisa, tomat, cabe, jagung dan sayur-sayuran. Hasil komoditi perkebunan yang cukup terkenal adalah jeruk keprol gayo dan alpukat.

Lokasi
Danau yang teduh ini terletak disebelah timur Kota Takengon, di Dataran Tinggi Gayo (1.250 meter diatas permukaan laut), Kecamatan Laut Tawar. Ia merupakan danau terluas di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan luas sekitar 5.472 Ha, panjang sekitar 17 Km dan lebar 5,5 Km.

Akses Menuju Lokasi
Akses menuju Takengon lebih mudah ditempuh melalui Kota Bireun. Ada sebuah terminal kecil tempat mangkal angkutan elf yang khusus ke Takengon. Lamanya perjalanan sekitar 5 jam dengan biaya sekitar Rp. 30.000,-. Selain dari Bireun, jalan alternative menuju Takengon dapat juga ditempuh melalui Blang Kejeren dan Kutacane.

Akomodasi
Tersedia kapal motor yang digunakan untuk membawa penumpang mengelilingi Danau Laut Tawar. Disekitar danau terdapat tempat penginapan bagi para wisatawan yang ingin bermalam di lokasi itu.   


2.  KOTA TAKENGON

Pesona Kota Takengon

Kota Takengon yang berada di Dataran Tinggi Gayo merupakan kota tujuan wisata Nanggroe Aceh Darussalam. Keindahan alamnya seperti tersembunyi karena berada di tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Objek wisata alam yang terkenal disana adalah Danau Laut Tawar, yang menjadi kebanggaan masyarakat Takengon.

Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Takengon, mengunjungi dan menginap di sekitar Danau Laut Tawar. Selain objek wisata Danau Laut Tawar, terdapat tempat-tempat wisata lainnya di Kota Takengon, seperti Gua Puteri Pukes, Pantang Terong, pemandian air panas Wih Pesam, Bukit Terong (Puncak Khafi), Goa Loyang Koro, Pantai Menye, Pantai Ketibung dan Monumen Pacuan Kuda Tradisional. Setidaknya ada 20 objek wisata yang dapat dikunjungi di Kota Takengon. Khusus mengenai perlombaan pacuan kuda, para jokinya biasanya anak usia sekolah. Mereka secara alami terlatih dan berani tanpa menggunakan pelana yang hanya memakai kaus dan celana pendek berkuda dengan kencang.

Penduduk asli Takengon adalah Suku Gayo. Mereka merupakan keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa daerahnya pun berbeda dengan bahasa daerah penduduk Aceh pada umumnya.

Kota Takengon berhawa sejuk dengan keindahan alamnya yang luar biasa, dan berada dikawasan dataran tinggi Gayo. Komoditi-komoditi unggulan yang dipasarkan di Kota Takengon adalah komoditi-komoditi yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo, seperti kopi Gayo (kopi arabika) yang terkenal yang diekspor ke Jepang, Amerika dan Eropa, tomat, markisa, sayur-sayuran, jagung cabe, kentang, jeruk keprok Gayo, alpukat, tembakau dan damar.

Lokasi
Kota Takengon adalah Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah.

Akses Menuju Lokasi
Akses menuju Takengon lebih mudah ditempuh melalui Kota Bireun. Ada sebuah terminal kecil tempat mangkal angkutan elf yang khusus ke Takengon. Lamanya perjalanan sekitar 5 jam dengan biaya sekitar Rp. 30.000,-. Selain dari Bireun, jalan alternative menuju Takengon dapat juga ditempuh melalui Blang Kejeren dan Kutacane.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Berhubung Takengon adalah ibu kota kabupaten, tidak sulit mencari penginapan kelas melati atau pun hotel berbintang di sekitar Kota Takengon. Di lokasi wisata goa ada tempat penyewaan speed boat dengan biaya relatif murah yang dapat digunakan untuk menikmati keindahan dan panorama Danau Laut Tawar.


3.  KESENIAN TRADISIONAL DIDONG

Masyarakat Gayo di Aceh Tengah hidup di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Mereka tetap melestarikan seni budaya bangsa yang salah satunya adalah Didong. Didong adalah kesenian tradisional yang sangat populer dan diminati oleh masyarakat Gayo. Para senimannya dipanggil dengan sebutan ceh-ceh Didong. Ada beberapa nama pemain didong yang terkenal, diantaranya Ceh Lakiki, Ceh To'et, Ceh Daman, Ceh Ibrahim Kadir, Ceh Ujang Lakiki, Ceh Ucak, Ceh Tujuh, Ceh Idris Sidang Temas dan Ceh Abd Rauf.

Didong merupakan seni pertunjukan yang dilakukan oleh para lelaki secara berkelompok (biasanya berkumlah 15 orang), dengan ekspresi yang bebas, sambil duduk bersila atau berdiri sambil mengentak-entakkan kakinya. Mereka melantunkan syair-syair berbahasa Gayo dengan suara merdu sambil menabuh gendang, bantal atau panci dan bertepuk tangan secara bervariasi, sehingga memunculkan suara dan gerak yang indah dan menarik.

Seni pertunjukan tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo ini mampu bertahan hingga sekarang di tengah perkembangan teknologi dan pengaruh westernisasi. Masyarakat tidak bosan-bosannya menyaksikan ceh-ceh didong berdidong di hampir setiap malam minggu. Pertunjukannya pun dilakukan hingga semalam suntuh (dari isya' hingga subuh).

Kesenian Tradisional Didong

Syair-syair yang dilantunkan dengan kekuatan perpaduan konfigurasi seni gerak, sastra dan suara bagaikan "menyihir" para penonton untuk "hanyut" dan terus mendengar refleksi sosial dan religius dari ceh-ceh didong tentang berbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat, beserta hubungan manusia dengan alam, agar hidup ini dapat disikapi secara bijaksana.

Regenerasi seniman Didong berjalan baik, karena hampir di setiap generasi muncul seniman-senimanberbakat dan fenomenal. Mereka umumnya bersekolah disekolah "rimba". Pengetahuan yang mereka peroleh adalah pengetahuan tentang kosmologi alam, sebagai bentuk kesadaran mikrokosmos dalam struktur realitas dan pengetahuan akan pengetahuan dan kearifal lokal serta kenibijaksanaan. Pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam berkesenian adalajh pesan-pesan humanis dan hati nurani rakyat. Tidak berlebihan apabila Sutradara Garin Nugroho menyebutnya bahwa Aceh adalah gudang senuman handal.


Akses Menuju Lokasi
Akses menuju Takengon lebih mudah ditempuh melalui Kota Bireun. Ada sebuah terminal kecil tempat mangkal angkutan elf yang khusus ke Takengon. Lamanya perjalanan sekitar 5 jam dengan biaya sekitar Rp. 30.000,-. Selain dari Bireun, jalan alternative menuju Takengon dapat juga ditempuh melalui Blang Kejeren dan Kutacane.


4.  PANTAN TERONG

Pesona Kota Takengon dan Danau Laut Tawar 
dilihat dari Pantan Terong 

Pantan Terong adalah sebuah bukit yang terletak di puncak bukit Dataran Tinggi Gayo. Di tempat ini kita bisa melihat ibukota Aceh Tengah dan Danau Laut Tawar secara keseluruhan, lapangan pacuan kuda di Kecamatan Pegasing, Bandar Udara Rembele dari atas dengan diapit serta dikelilingi punggung gunung Bukit Barisan yang elok. Pantan terong terletak di Kecamatan Bebesan 7,5 Km dari Kota Takengon, Kebupaten Aceh Tengah. 


5.  PANTAI MENYE

Pesona Pantai Menye

Pantai Menye (Pantai Manja) adalah sebuah objek wisata yang sangat menarik. Pantai Menye tidak saja tempatnya yang sangat strategis tetapi juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Pantai Menye terletak di Kecamatan Bintang, tepatnya disebelah timur Danau Laut Tawar.

Ada dua rute perjalanan yang bisa dicapapi, yaitu jalur utara dan selatan, Bila melalui jalur utara kita bisa melalui Takengon sekitar 18 Km dan bila melalui jalan selatan jarak tempuhnya agak lebih panjang sekitar 24 Km dengan waktu 20 sampai 30 menit.   


6.  AIR TERJUN MENGAYA

Pesona Air Terjun Mengaya

Wisata Air Terjun Mengaya ini sangat strategis, terletak di Desa Mengaya, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah yang berdekatan dengan objek wisata Danau Laut Tawar. Melalui jalan setapak yang sudah beraspal pengunjung bisa menikmati panorama hutan yang asri dan udara yang sejuk disepanjang jalan menuju lokasi air terjun ini. Tempat wisata ini setiap harinya selalu ada saja pengunjung yang datang. Lonjakan pengunjung biasanya terjadi pada saat hari libur dan hari-hari besar agama seperti lebaran.

Untuk mencapai lokasi air terjun ini sangat mudah, karena seluruh jenis kendaraan dapat mencapai lokasi. Disepanjang jalan 1,5 kilometer menuju lokasi, pengunjung akan disuguhi panorama persawahan, hutan pinus, perkebunan kopi dan hutan tropis yang masih lumayan alami. Setibanya dilokasi, suasana sejuk yang menyegarkan akan langsung terasa, musik alam yang berasal dari hembusan angin menimpa dedaunan, suara gemericik air dan suara serangga hutan langsung terdengar bagai menyambut pengunjung yang datang.


7.  MAKAM RAJA LINGE

Makam Raja Linge

Makam Raja Linge terletak di Kecamatan Linge yang berjarak sekitar 70 Km dari Kota Takengon. Di lingkungan Makam Raja Linge ini terdapat rumah adat dengan nama Rumah Pintu Ruang (rumah yang memiliki tujuh pintu) dan sebuah sumur tua yang tidak pernah kering. Disini juga terdapat fasilitas seperti toilet dan musholla.  


8.  GUA LOYANG KORO 

Mulut Gua Loyang Koro

Gua Loyang Koro terletak di Desa Toweren, Kecamatan Lut Tawar, lingkungannya berada disekitar Danau Lut Tawar. Loyang artinya lubang dan Koro artinya kerbau, dinamakan demikian karena menurut cerita, tempat tersebut pernah difungsikan persinggahan kerbau karena berada pada daerah yang menjadi lintasan orang menggiring kerbau dari Kota Takengon menuju daerah Isaq. Untuk menuju ke goa tersebut, dari jalan raya ke arah tenggara melewati anak tangga dan jalan setapak sekitar 130 m dari jalan raya. Pintu gua menghadap ke timur laut (33 derajat) ke arah danau. Bagian depannya terdapat bunga-bunga hias yang sengaja diletakkan dibagian mulut gua.

Mulut gua yang berada di timur laut dengan diameter 10 m, tinggi 2,3  m dan pada jarak 5 m dari mulut gua menghasilkan sudut penyinaran 25 derajat. Kemungkinan ruangan gua maksimum terkena sinar matahari pagi hari sekitar pukul 08.00 - 09.30. Secara keseluruhan ruangan gua berukuran panjang 90 m dan leabr antara 3 m - 18 meter. Langit-langit gua dibagian yang berdekatan dengan mulut gua cukup tinggi sehingga terkesan lapang hingga sekitar 3 - 4 meter, namun dibagian tengah langit-langit rendah hingga sekitar 120 cm, kemudian di bagian dalam langit-langit tingginya sekitar 2,5 m - 6 m sengan ruangan cukup luas sekitar 300 meter persegi. Secara keseluruhan gua ini gelap dan lembab, kecuali pada bagian yang berdekatan edngan mulut gua. Demikian juga lantainya basah oleh tetesan air dari langit-langit gua. Gua ini juga penuh dengan stalaktik dan stalakmit, kecuali pada bagian yang mendekati mulut gua sebagian stalakmit telah dipangkas dan sebagian diubah menjadi anak tangga.

Jjadi kalo kita berkunjung ke Tanah Gayo tidak ada salahnya mencoba masuk dan merasakan suasana Gua Loyang Koro ini. 


9.  GUA LOYANG DATU MERAH

Pesona Gua Loyang Datu Merah Mege

Gua Loyang Datu Merah Mege adalah objek wisata yang beranorama indah. Tidak hanya menawarkan keindahannya saja, tetapi juga legenda yang mengikutinya. Area objek wisata ini juga dilengkapi dengan tempat peristirahatan dan tempat duduk untuk menikmati air yang mengalir deras di dasar gua. Gua Loyang Datu Merah Mege terletak sekitar 26 Km dari Kota Takengon.

Menurut Petua (orang tua saksi sejarah) yang ada di Linge, dahulu gua ini digunakan untuk perlintasan membawa kerbau dari Linge ke Takengon, begitu juga sebaliknya dari Takengon ke Linge.

Loyang Datu adalah gua ketiga setelah Loyang Koro dan Loyang Pukes yang terdapat di Aceh Tengah. Gua Loyang Datu ini terletak di Desa Isaq, Kecamatan Linge. Menuju ke lokasi gua dari jalan raya menuruni anak tangga semen yang dibuat Pemda. Beragam tanaman tumbuh disekitar gua, antara lain durian (Durio zibethinus), tenung, kemiri (Aleurites moluccano), kayu manis (Gly-cyrhiza glabra), kopi (coffea sp), geding, bambu (Bambusa sp) dan damar (Shorea javanica).

Luas ruangan gua secara keseluruhan 1.980 meter persegi. Kondisi dibagian dalam gua cukup terang karena ruangan gua cukup luas dan cahaya matahari dapat masuk dari arah tenggara dan barat. Mulut gua yang berada pada 120 derajat (tenggata) dengan diameter 25 m, tinggi 11,6 m dan pada jarak 5 m mulut gua menghasilkan sudut penyinaran 65 derajat, sehingga ruangan gua maksimum terkena sinar matahari pagi sekitar pukul 06.00 - 08.30. Kemudian melalui mulut gua yang berada pada 265 derajat (barat) dengan diameter 30 m, tinggi 6 m dan pada jarak 5 m dari mulut gua menghasilkan penyinaran 50 derajat. Kemungkinan ruangan gua maksimum terkena sinar matahari sore hari sekitar pukul 15.00 - 16.00.

Dibagian utara mendekati dinding gua diutara mengalir Sungai Loyang Datu (sungai tersebut mengalir dari arah barat ke arah tenggara menuju Sungai Pesangan). Disekitar sungai tersebut banyak bebatuan berbagai ukuran. Menuju ke bagian dalam gua dapat melalui anak tangga semen dan berpagar besi. Anak tangga selain dibangun menuju ke arah gua, juga dibangun dari bagian dalam gua dan luar gua ke arah sungai. Dekat mulut gua juga telah dibangun balai-balai (pendopo) bertiang kayu, beratap seng dan berlantai semen serta tempat duduk dari semen. Balai-balai tersebut juga terdapat di dekat sungai dan dibagian dalam gua terdapat tempat duduk semen. Dibagian timur mulut gua mendekati sungai terdapat bangunan kecil dari kayu yang berfungsi sebagai toilet.

Kondisi langit-langit gua tinggi, serta lantai gua dibagian selatan cukup datar dan kering. Lantai gua konturnya menurun ke utara (ke arah sungai). Dibagian tersebut selain berbatu juga kondisinya agak lembab. Pada bagian tepian sungai banyak ditemukan batuan yang dapat difungsikan sebagai bahan alat bantu. Adapun ukuran luas lantai dibagian selatan sekitar 1.260 meter persegi. Pada dinding gua dibagian selatan terdapat cekungan-cekungan kecil alami dan ada yang dibuat oleh tangan manusia yang terlihat dari tumpukan batuan dinding guanya. Pada bagian tersebut dihuni kelelawar.

Jadi jika anda sudah menjejakkan kaki ke Negeri Antara Tanah Gayo tidak ada salahnya memasuki Gua dan Curuk yang ada di dataran tinggi tersebut. Mengenai legendanya bisa anda tanyakan pada orang-orang tua yang tinggal di desa sekitar gua.


10.  BURNI KELIETEN

Pesona Panorama Burni Kelieten

Jka berdiri di Singah Mata, Kecamatan Bebesan, Kabupaten Aceh Tengah, disana kita akan melihat panorama yang sangat indah Danau Laut Tawar yang terbentang. Tampak disebelah utara puncak gunung Burni Kelieten menyapa setiap pengunjung yang datang ke Takengon, kota dingin Kabupaten Aceh Tengah.

Burni Kelieten adalah salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, Burni Kelieten selain memiliki wisata yang bagus, kalau kita memandang dari atas puncaknya dapat melihat kawasan wisata yang ada di Takengon, khusunya Danau Laut Tawar.

Burni Kelieten berasal dari kata dalam bahasa Gayo adalah Burni artinya Gunung, sedangkan Kelieten artinya Kelihatan, jika diterjemahkan maka artinya adalah gunung yang kelihatan. Dimasa zaman penjajahan Belanda, warga setempat sering menyebut-nyebut kelihatan.

Dipuncaknya terdapat pilar yang dibangun tentara Belanda. Pada saat itu, masyarakat sebagai buruh satu-persatu batu diangkut dari dasar gunung untuk membangun sebuah Pilar. Cerita tersebut diambil dari cerita legenda masyarakat setempat.\

Puncak gunung Burni Kelieten memiliki ketinggian sekitar 2930 meter dari atas permukaan laut. Mendaki puncaknya selain membutuhkan nyali besar dan fisik yang kuat, rutenya yang hanya jalan setapak melintas dengan atu arah dari Air Terjun Mengaya, Kecamatan Laut Tawar.

Menuju puncak Bur Kelieten, yang pertama kali dijumpai adalah Atu Pendelamen (Batu Penjilatan), Atu Gutul (Batu Gundul), Atu Kukuren dan Gua Sara Kampung, Gua ini terletak diarah kiri. Dari cerita legenda masyarakat, pada masa DI-TII dahulu, gua ini digunakan sebagai tempat berlindung masyarakat sekitar untuk menghindari konflik bersenjata saat itu.

Berjarak sekitar 50 meter, selanjutnya akan ditemukan Atu Merpati dan Genting. Konon katanya kawasan ini memiliki cerita misterius. Jika pengunjung berniat baik menuju kawasan ini, maka biasanya para pengunjung akan menemukan Taman Aulia (Hamparan bunga yang menawan). Namun jika niatnya tidak baik, Taman Aulia yang sarat mistis tersebut tidak akan bisa dijumpai. Taman Aulia adalah sebuah hamparan anggrek indah diatas puncak Burni Kelieten.


11.  GUA PUTRI PUKES

Gua Puteri Pukes

Gua Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah. Ceritanya diriwayatkan sebagai legenda antara mitos dan fakta. Betul atau tidaknya legenda Putri Pukes, hingga sekarang belum ada yang memastikannya. Gua Putri Pukes tempat legenda itu diceritakan, kini sudah menjadi tempat wisata, tetapi sangat disayangkan gua tempat manusia yang menjadi batu itu sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga tidak lagi alami.

Didalam gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang dipercayai adalah Putri Pukes yang telah menjadi batu, sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu dan alat pemotong zaman dahulu.

Menurut informasi masyarakat setempat, Batu Putri Pukes tersebut membesar karena kadang-kadang batu tersebut menangis sehingga air mata yang keluar tersebut menjadi batu dan makin lama batu tersebut makin membesar. Sementara sumur besarnya, setiap tiga bulan air di sumur tersebut kering dan tidak ada airnya, bila ada air orang pintar akan datang untuk mengambil air tersebut. Kendi yang telah menjadi batu tersebut pernah dibawa oleh orang, tetapi dikembalikan lagi karena dilanda resah setelah mengambilnya. Sedangkan tempat bertapa itu digunakan oleh orang zaman dahulu untuk melakukan bertapa guna mencari ilmu dan alat pemotong (pisau) peninggalan manusia purba yang ditemukan di dalam guna Putri Pukes.


12.  ATU TINGOK

Pesona Atu Tingok

Disebut Atu Tingok karena keberadaan beberapa bongkah batu besar yang teronggok di kawasan Bur Telege (sekarang banyak disebut Bur Gayo dan sempat disebut Bur Peteri Bensu). Atu Tingok tersebut berada dibagian gunung yang sangat miring dan terjal dengan ukuran 4 x 3 meter agak menonjol keluar seperti tersangkut saja, sehingga bagi pengunjung yang ingin berdiri diatasnya akan merasa was-was, khawatir akan menjadi beban bagi batu tersebut dan terguling kebawah.

Dari Atu Tingok akan tampak hamparan luas Kota Takengon. Bagian kota dari Tan Saril, Bles, Belang Gele disisi barat, lalu sepanjang kawasan tanggul Boom - Mendale Kebayakan persis sejajar dan hamparan danau kebanggaan rakyat negeri Antara disisi timur.

Angin sepoi-sepoi menerpa daun-daun pinus menyuguhkan musik lam ditingkahi suara burung-burung kecil serta lengkingan suara burung elang. Saat berkunjung kesana, malah ada seekor elang berwarna keputihan yang lazim disebut warga gayo sebagai Kalang Siki meliuk-liuk diudara. 

Menuju atu Tingok sebenarnya sangat tidak sulit, dibandingkan dengan tempat ketinggian lainnya di Aceh Tengah seperti ke Pantan Terong di Kecamatan Bebesen, sisi barat Kota Takengon. Disamping jaraknya yang sangat dekat, sekitar 2 Km dari pusat Kota Takengon, jalan menuju lokasi tersebut dapat di akses dengan segala jenis kendaraan tanpa harus mengandalkankekuatan mesin secara maksimal.

Jika pengunjung membawa kendaraan, pengunjung dapat dengan aman memarkir kendaraannya di jalan terpuncak tanjakan persisnya di sekitar Telege (Gayo : sumur) Bur Gayo. Keberadaan sumur di puncak gunung membuat nama pegunungan ini disebut Bur Telege. Nama ini kemudian berubah menjadi Bur Gayo karena beberapa tahun lalu ada penanaman pohon Pinus yang sengaja membentuk tulisan "Gayo" yang dulu nampak jelas terbaca dari Kota Takengon tentu saja pada saat pohon-pohon tersebut masih kecil.


13.  LUKUP BADAK

Lukup Badak adalah salah satu tempat rekreasi yang terletak di Kampung Simpang Kelaping, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah. Tempat itu semula dibuat untuk tempat penginapan, akan tetapi sebelum bangunan yang dibuat selesai, pemilik rumah tersebut meninggal dunia dan akhirnya bangunan tersebut tidak ada yang melanjutkan.

Di tahun 1997-an tempat tersebut masih terlihat menarik, karena masih ada yang menjaga dan membersihkannya. Akan tetapi pada saat ini tempat tersebut sudah sedikit tidak terawat, taman-taman yang dulu indah sekarang ditumbuhi rumput liar, gubuk-gubuk kecil yang dulu ada sekarang sudah tidak terlihat lagi.

Pda hari tertentu, Lukup Badak sering dikunjungi oleh sekelompok orang-orang yang ingin bersantai dan makan siang, juga dijadikan tempat rekreasi pelepas jenuh.


14.  ATU BELAH

Atu Belah yang memiliki legenda cerita rakyat Gayo 

Legenda Atu Belah itu menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada masa dahulu di desa Penerun Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah, hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu mempunya dua orang anak, yang tua berusia tujuh tahun dan yang kecil masih balita. Ayah kedua anak itu hidup sebagai petani dan di waktu senggangnya ia selalu berburu rusa di hutan.

Disamping itu, ia juga banyak menangkap belalang disawah untuk dimakan apabila tidak berhasil memperoleh binatang buruan. Belalang itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam lumbung.

Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk berburu rusa, di rumah tinggal istri dan kedua anaknya. Pada waktu makan, anak yang sulung merajuk karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya yang sangat dimanjakannya itu.

Akhirnya si ibu menyuruh anaknya tersebut mengambil belalang yang berada di dalam lumbung, padahal sebelumnya si ayah memesan kepada sang ibu jangan dibuka lumbung berisikan belalang itu. Ketika si anak membuka tutup lumbung, rupanya ia kurang berhati-hati, sehingga menyebabkan semua belalang itu habis berterbangan ke luar.

Sementara itu si ayah yang pulang dari berburu tampak kelihatan sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh seekor rusa pun. Kemudian ia sangat marah ketika mengetahui semua belalang yang telah dikumpulkan dengan susah payah telah habis terlepas. Kemudian dalam keadaan lupa diri si ayah memotong sebelah payudara istrinya dan memanggangnya untuk dijadikan teman nasinya. Selanjutnya wanita malang yang berlumuran darah dan dalam kesakitan itu meninggalkan rumahnya.

Dalam keadaan keputus-asaan si wanita tersebut pergi ke hutan. Di dalam hutan tersebut si ibu menemukan sebongkah batu, dengan keputusasaannya si ibu meminta kepada batu untuk dapat menelannya agar penderitaan yang dirasakannya berakhir.

Selepas itu si ibu bersyair dengan kata-kata, "Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa dahulu,". Jika diartikan dalam dalam bahasa Indonesia "Batu belah, batu tertangkup, sudah tiba janji kita dimasa yang lalu". Kata-kata itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh ibu yang malang itu.

Tiba-tiba suasana berubah, cuaca yang sebelumnya cerah menjadi gelap disertai dengan petir dan angin besar dan pada saat itu pula batu tersebut terbelah menjadi dua dengan perlahan-lahan tanpa ragu si ibu melangkahkan kakinya masuk ke tengah belahan batu tersebut. Setelah itu batu yang terbelah menjadi dua tersebut kembali menyatu.

Si ayah dan kedua anaknya tersebut mencari si ibu, tetapi tidak menemukannya. Mereka hanya menemukan beberapa helai rambut diatas sebuah batu besar, rambut tersebut adalah milik si ibu yang tertinggal ketika masuk kedalam atu belah.

Kini atu belah hilang populernya, hal itu dibuktikan masyarakat Gayo khususnya generasi sekarang masih banyak yang tidak tahu cerita dari legenda atu belah dan di khawatirkan cerita rakyat ini akan hilang dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu.

Tempat wisata atu belah sudah tidak terawat lagi dan para wisatawan pun tidak pernah lagi kesana, apakah karena jauh dari pusat Kota Takengon ataupun karena sudah tidak populer lagi di masyarakat?


15.  PENINGGALAN KERAJAAN LINGE

Kerajaan Linge adalah sebuah kerajaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Adi Genali mempunyai empat orang anak, yaitu : Empuberu, Sibayak Linge, Merah Johan dan Merah Linge. Raja Linge I mewariskan keturunannya sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (1012 - 1038 M). Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang Perdana Menteri yang bernama Syeikh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.


16.  UMAH EDET PITU RUANG

Umah Edet Pitu Ruang Gayo

Umah Edet Pitu Ruang peninggalan Reje Belantara di Kampung Toweren, Kecamatan Laut Tawar Aceh Tengah terlihat tidak terurus, warnanya yang mulai pudar bahkan nyaris hilang dimakan waktu dan telah lapuk. Rumah itu adalah bukti sejarah orang Gayo, tetapi tidak ada yang peduli dengan peninggalan sejarah tersebut. Rumah tua bukti sejarah orang Gayo tersebut letaknya si sebuah kampung pinggiran Banau Lut Tawar.    

Umah Edet Pitu Ruang (Rumah Adat Tujuh Ruang) tersebut seakan-akan tidak ada yang perduli, padahal rumah itu adalah bukti sejarah yang masih ada di Dataran Tinggi Gayo yang benar-benar asli peninggalan dan tidak seperti di Linge dan Mess Pitu Ruang di Kampung Kemili Takengon yang hanya kopian dari bentuk aslinya.

Rumah Edet Pitu Ruang tersebut milik Reje Baluntara yang nama aslinya Jalaluddin sudah berdiri sejak pra kemerdekaan. Tetapi tidak ada perhatian dari Pemda setempat yang serius untuk merawatnya. Beberapa bagian lantai rumah adat tersebut sudah mulai lapuk. Begitu juga dengan 27 tiang penyanggah dari kayu pilihan dan ukiran dengan pahatan kerawang Gayo dusah mulai bergeser dan tidak lagi tegak lurus. Beberapa batu gunung dipakai sebagai alas tiang utama agar posisi rumah tetap stabil.

Beberapa sumber yang ditemui, Rumah Adat Umah Pitu Ruang Toweren memang dibuat dari kayu pilihan. Diameter tiang penyangganya pun seukuran dekapan dewasa. Tidak diketahui tahun berapa tahun rumah itu dibangun, tetapi menurut cerita bangunannya sudah berdiri sebelum kolonial Belanda masuk ke Dataran Tinggi Gayo.

Luas Umah Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12 meter. Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap ke utara. Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar, ada dua lepo atau ruang bebas di arah timur dan barat.

Semua sambungan memakai ciri khas tersendiri menggunakan pasak kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang dipahat dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah ukiran kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan. Sementara ukiran naga merupakan lambang kekuatan, kekuasaan dan kharisma. Peninggalan Raja Baluntara bukan hanya bangunan tua yang bertengger usang di Kampung Toweren Uken, tetapi aset bersejarah lainnya masih tersimpan rapi oleh pihak keluarga seperti Bawar. Bawar adalah sebuah tanda kerajaan yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada Raja Baluntara.

Selain Bawar yang mamsih disimpan oleh keluarga keturunan raja itu, ada piring, pedang, cerka dan sejumlah barang peninggalan yang  sangat bersejarah. Dibelakang rumah adat tersebut dahulunya ada rumah dapur di bagian selatan yang ukurannya sama dengan ruang utama yang berukuran 9 x 12 meter. Ruangan dimaksud telah hancur. Selain itu juga ada mersah, kolam dan roda, alat penumbuk padi dengan kekuatan air yang semuanya juga sudah musnah.

Reje Baluntara merupakan seorang raja yang juga menguasai kawasan hutan sehingga disebut sebagai Reje Baluntara (Raja Belantara). Menurut cerita y ang berkembang, foto Reje Baluntara ditemukan oleh salah seorang keluarga Reje Baluntara yang bekerja di Jakarta, almarhum Reje Amat Banta. Dalam Sebuah kesempatan ke Belanda, Reje Amat Banta menemukan foto Reje Baluntara yang dibuat oleh Belanda, kemudian dibawa pulang ke Takengon yang kemudian dibuat lukisannya sesuai foto aslinya.

Sekeliling rumah pitu ruang tersebut, pada tahun 1990 dibuat pagar kawat oleh Suaka Sejarah dan Peninggalan Purbakala Banda Aceh, kini rumah itu tidak lagi ditempati oleh keluarga Reje Baluntaral.    

1 komentar:

win ruhdi Bathin mengatakan...

beberapa foto ini "mengenal" saya. Tapi sumber foto tidak disebutkan.TK

Posting Komentar